33 C
Makassar
Rabu, November 4, 2026

Udara Makassar dan Sekitarnya Kategori Kurang Sehat, Gubernur Imbau Warga Sesuaikan Aktivitas

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Makassar – Kualitas udara di Kota Makassar dan sejumlah wilayah sekitarnya memburuk dalam beberapa hari terakhir akibat peningkatan konsentrasi partikulat PM2,5 yang diduga berasal dari sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Sudirman Sulaiman mengimbau masyarakat, khususnya mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan, untuk menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kualitas udara.

Ia secara khusus menyebut pengemudi ojek online (ojol), pekerja bangunan, pekerja proyek, dan kelompok masyarakat lain yang lebih banyak beraktivitas di luar ruangan.

“Kondisinya adalah kondisi yang ditetapkan bahwa ada polusi, terdampak kiriman polusi baik dari timur maupun dari barat. Sehingga kita harus menyesuaikan ketika ada pekerjaan,” kata Andi Sudirman selepas melantik Pj Sekda Sulsel di Aula Asta Cita Rujab Gubernur Sulsel, Senin 5 Oktober 2026.

Menurutnya, masyarakat yang aktivitasnya banyak dilakukan di luar ruangan perlu mengondisikan kegiatan dengan kondisi udara saat ini.

“Terutama yang mungkin berkendara seperti teman-teman dari driver ojol ataupun kemudian pekerja bangunan, proyek dan sebagainya, untuk senantiasa kemudian mungkin bagaimana mengkondisikan, menyesuaikannya,” ujarnya.

Baca juga:  Sebanyak 2.458 Penerbangan Terdampak Karhutla, Ini Daftar Bandara Terganggu

BMKG : Kualitas Udara Makassar dan Sekitarnya Kurang Sehat

Disisi lain, Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Asriani Idrus mengatakan kualitas udara di Maros dan sekitarnya, termasuk Makassar, dalam beberapa hari terakhir berada pada kategori sedang hingga kurang sehat berdasarkan indikator PM2,5.

“Beberapa hari ini terpantau kualitasnya untuk indikator PM2,5 Maros dan sekitarnya, termasuk Makassar, masuk dalam kategori kurang sehat hingga sedang,” kata Asriani dalam keterangannya, Minggu 4 Oktober 2026.

BMKG mencatat konsentrasi PM2,5 bersifat fluktuatif dan tidak terjadi sepanjang hari. Peningkatan paling tinggi umumnya terjadi pada malam hari, dini hari hingga pagi menjelang siang.

Kondisi tersebut kemudian cenderung membaik pada siang hingga sore hari.

“Kategori kurang sehat biasanya terjadi pada dini hari, tengah malam, hingga pagi hari. Hari ini terpantau sampai jam 11.00 WITA, dan pas jam 12.00 WITA sudah kembali membaik,” jelas Asriani.

Baca juga:  Husniah Talenrang Tersangka, Wabup Darmawangsyah Muin Berpeluang Jadi Plt Bupati Gowa

Asap Karhutla dari Luar Sulsel

BMKG menduga penurunan kualitas udara tersebut berkaitan dengan pergerakan asap karhutla dari wilayah lain.

Asriani menjelaskan angin dari arah barat hingga barat laut menjadi salah satu koridor yang memungkinkan partikel asap dari Kalimantan terbawa menuju Sulawesi Selatan.

Sebaliknya, ketika angin dominan bertiup dari arah timur, asap karhutla dari wilayah Papua dan Maluku juga berpotensi melintasi Sulsel.

“Penyebab utamanya berasal dari asap kebakaran hutan. Melihat pola arah angin yang umumnya bertiup dari barat, besar kemungkinan partikel ini terbawa dari Kalimantan menuju wilayah Sulawesi Selatan,” tuturnya.

BMKG menyebut emisi kendaraan bermotor belum menjadi faktor dominan dalam peningkatan konsentrasi PM2,5 saat ini.

Ancaman penurunan kualitas udara juga masih berpotensi berlangsung dalam beberapa hari ke depan karena aktivitas titik panas atau hotspot di Kalimantan masih tinggi.

“Kalau dilihat dari pantauan satelit, titik hotspot di Kalimantan masih sangat padat dan belum mereda. Jadi potensi masuknya partikel asap ke Sulsel masih ada untuk beberapa hari ke depan,” ungkap Asriani.

Baca juga:  PLN Disorot Ombudsman Sulsel soal Pemadaman Listrik, Perencanaan Pemeliharaan Dipertanyakan

Gubernur Soroti Karhutla Bantimurung

Selain dampak asap dari luar Sulsel, Andi Sudirman juga menyinggung penanganan karhutla di kawasan Bantimurung, Kabupaten Maros.

Ia mengatakan penanganan karhutla telah diteruskan kepada instansi terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup. Pemerintah juga mengandalkan satuan tugas untuk menangani persoalan tersebut.

“Ya, ini kami sudah teruskan ke lingkungan hidup dan bersama penggabungan, kita sudah ada satgas penggabungan yang selalu melaksanakan dan alhamdulillah cukup efektif selama ini,” katanya.

Di sisi lain, BMKG menyebut suhu udara di Sulawesi Selatan saat ini berada pada kisaran 30 hingga 35 derajat Celsius. Kondisi panas tersebut masih berada dalam kondisi yang umum terjadi karena sebagian besar wilayah Sulsel tengah berada pada periode puncak musim kemarau.

Sensasi panas yang dirasakan masyarakat juga dipengaruhi indeks rasa panas atau heat index, yang merupakan kombinasi suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan intensitas radiasi matahari.

Reporter : Andi Alfath

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Populer