Desa Terkini, Maros – Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono, mendesak Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) meneruskan pembangunan akses jalur kereta api di Sulawesi Selatan (Sulsel) agar menjangkau pusat Kota Makassar dan Parepare.
Bambang yang juga Anggota Komisi VII itu menilai, lokasi stasiun yang berada jauh dari pusat kota dapat mengurangi kemudahan akses masyarakat terhadap transportasi massal. Karena itu, ia meminta jalur kereta api tidak hanya menjangkau kawasan pinggiran, tetapi juga terhubung langsung dengan pusat aktivitas masyarakat.
Desakan tersebut disampaikan Bambang saat melakukan kunjungan kerja ke Stasiun Kereta Api Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Jumat 9 Oktober 2026.
“Kereta ini betul-betul harus ramah terhadap kebutuhan masyarakat luas. Saya tekankan kepada Ditjen Kereta Api untuk segera mengubah akses menuju ke dalam kota,” kata Bambang kepada awak media.
Menurut dia, stasiun kereta api perlu terintegrasi dengan pusat kegiatan ekonomi, permukiman, pendidikan, dan pemerintahan agar layanan tersebut lebih mudah dijangkau masyarakat.
Bambang secara khusus menyoroti akses menuju Parepare yang dinilainya perlu menjangkau pusat kota, bukan berhenti sekitar 15 kilometer dari kawasan tersebut.
“Kereta ini masuk ke Makassar. Satunya lagi, kereta ini harus masuk ke Parepare. Jadi bukan 15 kilometer dari Parepare, tetapi nol kilometer dari Parepare,” ujarnya.
Bambang Usulkan Jalur Khusus Logistik ke Makassar New Port
Selain akses penumpang, Bambang menyoroti rencana pengembangan jalur kereta api menuju Makassar New Port. Ia mengusulkan agar kawasan pelabuhan dan Kawasan Industri Makassar (KIMA) dilayani jalur kereta khusus logistik, terpisah dari layanan penumpang.
Menurut dia, jalur khusus tersebut diperlukan untuk mendukung distribusi barang dari kawasan industri yang menampung sekitar 250 hingga 300 industri.
“Makassar New Port bisa disupport dengan kereta-kereta logistik. Karena di situ ada 250 sampai 300 industri yang harus difasilitasi dengan transportasi logistik massal,” jelasnya.
Pemisahan layanan logistik dan penumpang, menurut Bambang, diperlukan agar kebutuhan distribusi barang dapat terlayani tanpa mengganggu mobilitas masyarakat.
Armada Kereta Sulsel Baru Dua Rangkaian
Di sisi lain, Kepala Balai Pengelola Kereta Api Sulawesi Selatan, Deby Hospital, mengakui keterbatasan armada menjadi kendala dalam meningkatkan kapasitas layanan dan kuota penumpang.
Saat ini, pengelola hanya memiliki dua rangkaian kereta, masing-masing satu untuk operasional harian dan satu sebagai cadangan.
Pihaknya telah mengajukan penambahan sarana kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) agar frekuensi perjalanan dapat ditingkatkan. Penambahan armada diharapkan dapat mendukung kebutuhan penumpang, terutama pada akhir pekan dan perjalanan dari arah Parepare pada pagi hari.
“Kebutuhan masyarakat yang meminta kami menambah kuota tiket itu tergantung dari sarananya. Karena sarananya hanya dua,” kata Deby.
Saat ini, layanan Kereta Api Trans Sulawesi telah diperpanjang hingga Stasiun Palanro. Tarif perjalanan rute Mandai–Palanro ditetapkan sebesar Rp12.000, dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam.
Reporter : Andi Alfath


