33 C
Makassar
Kamis, September 17, 2026

Desa Wisata Wae NTT Lolos Jadi Lokasi Program TV Prancis, Pekín Express Musim 23,

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Makassar – Desa Wisata Wae di Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), lolos terpilih menjadi salah satu lokasi syuting reality show petualangan asal Prancis, Pekín Express musim ke-23.

Kehadiran produksi televisi internasional tersebut membawa peserta dari berbagai negara bersama kru ke Wae Lolos, desa wisata yang dikenal dengan julukan destinasi Seribu Air Terjun.

Ketua Pokdarwis Cunca Plias, Robert Perkasa, mengatakan para peserta telah tiba di Wae Lolos untuk mengikuti sejumlah tantangan yang mengangkat aktivitas serta kehidupan masyarakat setempat.

“Ratusan peserta dari berbagai belahan dunia menginjakkan kaki di Desa Wae Lolos, siap menaklukkan berbagai tantangan yang menguji adrenalin,” kata Robert, Minggu 6 September 2026.

Pekín Express merupakan reality show balap petualangan yang ditayangkan stasiun televisi Prancis. Program tersebut mempertemukan pasangan peserta yang harus menyelesaikan perjalanan dan berbagai tantangan dengan mengandalkan kemampuan beradaptasi serta berinteraksi dengan masyarakat lokal.

Pada musim ke-23, perjalanan peserta dimulai dari Pantai Koka di Flores hingga berakhir di Manila, Filipina. Untuk wilayah Indonesia, produksi program tersebut mencakup sejumlah destinasi di Flores, Sumbawa, Lombok dan Bali.

Baca juga:  Taufan Pawe Soroti Lambannya Penanganan Kasus Nonjob ASN Pare Pare, Ombudsman Sulsel Bilang Begini

Di Flores, lokasi yang menjadi bagian dari rute syuting antara lain Pantai Koka, Kelimutu, Bajawa dan Wae Lolos. Sementara di Sumbawa terdapat Bima, Labuan Jambu dan Kuang. Rute kemudian berlanjut ke Labuhan Lombok, Tanjung Luar dan Mataram di Lombok, serta Padangbai, Lovina dan Tanah Lot di Bali.

Proses syuting telah dimulai sejak 28 Agustus 2026 di Pantai Koka, Maumere, dan dijadwalkan berakhir di Manila pada 8 Oktober 2026.

Tantangan di Wae Lolos

Wae Lolos tidak hanya menjadi latar belakang produksi. Para peserta juga harus mengikuti berbagai tantangan yang mengambil inspirasi dari budaya, aktivitas masyarakat dan kondisi geografis setempat.

Salah satu tantangan yang disiapkan adalah perlombaan bersepeda mengelilingi Kampung Langgo. Peserta akan melewati jalur perbukitan dan kawasan permukiman warga.

“Salah satu tantangan yang paling dinantikan adalah perlombaan bersepeda mengelilingi Kampung Langgo. Para peserta akan melintasi jalur yang telah diatur, lereng perbukitan, dan perkampungan penduduk. Tantangan ini tidak hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan navigasi dan kerja sama tim,” jelas Robert.

Baca juga:  Peduli Korban Gempa NTT, Angkasa Pura Bandara Sulhas Kirim Bantuan via Hercules

Sebanyak 10 pasangan akan bersaing untuk melanjutkan perjalanan ke tahap berikutnya. Selain kemampuan fisik, peserta dituntut mampu beradaptasi dengan lingkungan dan berkomunikasi dengan masyarakat di daerah yang mereka datangi.

“Para peserta harus mampu mengatasi kendala bahasa dan menunjukkan keterbukaan terhadap budaya baru. Hal ini melahirkan beragam kisah inspiratif dan emosional, memberikan wawasan unik mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat di negara-negara yang mereka lalui,” jelas Robert.

Selama proses produksi berlangsung, masyarakat dan penonton tidak diperkenankan merekam kegiatan syuting. Pembatasan tersebut dilakukan untuk menjaga kerahasiaan tantangan dan kejutan yang akan ditampilkan dalam program.

Penonton di Indonesia baru dapat menyaksikan perjalanan para peserta melalui M6 pada musim semi 2027.

Peluang Promosi Wisata Wae Lolos

Terpilihnya Wae Lolos sebagai salah satu lokasi syuting dinilai menjadi peluang promosi bagi destinasi wisata tersebut. Eksposur melalui program televisi internasional berpotensi memperkenalkan lanskap alam dan kehidupan masyarakat Wae Lolos kepada penonton dari berbagai negara.

Baca juga:  Seragam Sekolah, Perizinan, dan Perceraian, Tiga Kasus yang Menyeret Bupati Gowa

Robert menilai kedatangan peserta dan kru produksi juga berpotensi memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

“Kehadiran ratusan peserta dan kru televisi akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya melestarikan potensi wisata desa,” terang Robert.

Namun, eksposur internasional tersebut juga membuat pengelolaan destinasi menjadi semakin penting. Popularitas yang meningkat perlu diikuti dengan kemampuan masyarakat dan pengelola menjaga lingkungan, budaya lokal serta kualitas pengalaman wisata agar promosi tidak berhenti sebatas tayangan televisi.

Robert berharap momentum tersebut dapat mendorong masyarakat untuk terus menjaga sekaligus mempromosikan potensi wisata daerah.

“Dengan semangat gotong royong dan keterbukaan terhadap budaya baru, Indonesia siap menyambut para wisatawan dari berbagai belahan dunia dan menjadi destinasi wisata yang mendunia,” tandas Robert.

Reporter : Ivan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru