33 C
Makassar
Kamis, September 17, 2026

Dewan Energi Nasional Ungkap Listrik Sulsel Tertekan Kemarau, PLTA Berkontribusi 30 Persen

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Makassar – Kemarau berkepanjangan di Sulawesi Selatan (Sulsel) berdampak langsung terhadap sistem kelistrikan karena pembangkit listrik tenaga air (PLTA) memiliki kontribusi cukup besar terhadap pasokan listrik di wilayah tersebut. Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani mengatakan PLTA menyumbang sekitar 30 persen kebutuhan listrik Sulsel. Sementara pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara berkontribusi sekitar 20 persen.

Kondisi tersebut membuat penurunan debit air selama kemarau harus diantisipasi dengan kesiapan PLTU batu bara untuk menggantikan daya yang berkurang dari PLTA.

“Jadi, kita semua tahu bahwa kondisi saat ini ada beberapa kombinasi, yaitu dari cuaca, karena kita mengalami masa El Nino yang panas dan kemarau cukup panjang di Sulawesi ini. PLTA itu mengambil peran sekitar 30 persen, lalu kemudian PLTU batu bara juga mengambil peran sekitar 20 persen,” kata Sripeni saat ditemui awak media selepas menjadi pembicara dalam Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional dengan tema Penguatan Pemahaman Publik tentang Kebijakan Energi Nasional dan Ketahanan Energi Nasional di Ruang Senat Akademik Unhas, Selasa 15 September 2026.

Baca juga:  Perbaikan Jalan Sulsel Digenjot, 49 Ruas Dikerjakan-36 Lainnya Tahap Perencanaan

Menurut Sripeni yang juga mantan Plt Direktur Utama (Dirut) PT PLN, persoalan muncul ketika penurunan produksi PLTA tidak dapat segera ditutup oleh pembangkit batu bara.

Kondisi tersebut dapat menciptakan ketidakseimbangan antara daya yang hilang dari PLTA dengan daya yang mampu disuplai PLTU.

“Kemarin ini ada penyesuaian terhadap produksi batu bara sehingga agak sedikit terlambat. Ini juga merupakan bagian dari ketidaksiapan PLTU batu bara yang ada di Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan,” kata Sripeni.

Di tengah kondisi tersebut, Sripeni mencontohkan pengelolaan PLTA milik PT Vale yang dinilai tetap mampu mempertahankan operasional meski menghadapi cuaca ekstrem.

Menurutnya, keberlangsungan pembangkit tersebut tidak terlepas dari upaya menjaga ekosistem hingga kawasan hulu sumber air.

Baca juga:  Sulsel Berduka atas Tewasnya WNI Asal Maros di Armenia, Disnakertrans Turun Tangan

“Menurut saya ini sangat bagus dan bisa menjadi contoh bagaimana pengembangan suatu PLTA dilakukan sama-sama di hulu, tetapi ekosistemnya dijaga sampai di hulu sumber airnya,” jelasnya.

Sripeni mengatakan sejumlah langkah telah dilakukan untuk menjaga produksi energi selama kondisi kemarau. Salah satunya melalui modifikasi cuaca dan hujan buatan untuk membantu mempertahankan pasokan air bagi PLTA.

Di sisi lain, PLTU batu bara juga diupayakan kembali beroperasi setelah menjalani pemeliharaan.

“Saat ini PLTU Batubara sedang diupayakan untuk masuk kembali setelah mereka melakukan pemeliharaan, gitu,” kata Sripeni.

Sripeni menyebut kondisi kelistrikan Sulsel saat ini mulai berangsur pulih. Dalam sepekan terakhir, luas wilayah yang mengalami pemadaman listrik disebut mulai berkurang.

Baca juga:  Kebakaran Asrama TNI Makassar, Pangdam XIV/Hasanuddin: Ini Musibah, Kita Prihatin

Diketahui, sistem kelistrikan di wilayah Sulawesi bagian Selatan tengah mengalami gangguan dan menyebabkan pemadaman listrik bergilir selama beberapa minggu belakangan ini. PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Selatan, Selawesi Barat dan Sulawesi Tenggara terus menggenjot perbaikan tenaga kelistrikan.

Teranyar, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo turun langsung memantau kondisi sistem kelistrikan tersebut dengan melakukan inspeksi ke sejumlah pembangkit di Kabupaten Jeneponto, Sulsel, Senin 14 September 2026.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru