23.8 C
Makassar
Senin, Agustus 3, 2026

BUMDes Tenrigangkae Sulap Lahan Tidur Jadi Cuan Lewat Sentra Budidaya Ikan Nila

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Maros – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan berhasil mengubah lahan tidur menjadi kawasan budidaya ikan nila yang kini menjadi salah satu penggerak ekonomi desa.

Desa Menginspirasi — Setiap desa memiliki cerita yang layak dibagikan. Melalui program ini, desaterkini.id menghadirkan praktik baik yang dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa di seluruh Indonesia.

Berawal dari lahan rawa yang tidak produktif di Dusun Tinggito, Pemerintah Desa (Pemdes) bersama BUMDes melihat adanya potensi ekonomi. Kini, dua kolam budidaya berisi sekitar 45 ribu ekor ikan nila dan dikelola bersama masyarakat.

Kepala Desa Tenrigangkae, Wahyu Febri, mengatakan pemilihan ikan nila bukan tanpa alasan. Selain memiliki pasar yang luas, ikan nila dinilai paling cocok dibudidayakan dengan karakteristik air di wilayah tersebut.

Baca juga:  Kasus Pembunuhan Pemuda Maros di Armenia, Empat WNI Masih Disidik

“Kami memilih ikan nila karena sudah memiliki pasar. Cara perawatannya juga sesuai dengan kondisi alam dan geografis Desa Teringangkae yang airnya payau dan air tawar,” kata Wahyu saat dihubungi desaterkini.id, Jumat 24 Juli 2026.

Lahan rawa milik warga yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kemudian dikelola melalui BUMDes agar memberikan nilai ekonomi.

“Daripada lahan tidur tidak dimanfaatkan, kami menggali menjadi kolam ikan. Lahannya milik masyarakat, tetapi dikelola oleh BUMDes sehingga masyarakat juga ikut merasakan manfaatnya,” beber Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Maros itu.

Program budidaya tersebut mulai dirintis sejak Oktober 2025 melalui dukungan anggaran ketahanan pangan dengan nilai sekitar Rp170 juta. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan kolam dan berbagai fasilitas pendukung, seperti kincir air, jaringan listrik, sumur bor, perpipaan, hingga sarana operasional lainnya.

Baca juga:  Longsor Putus Akses Dua Desa di Morowali Utara, Lebih dari 2.100 Warga Terdampak

Menurut Wahyu, hasil usaha yang diperoleh tidak hanya mampu menutup biaya pembangunan sarana pendukung, tetapi juga telah memberikan pendapatan bagi pengelola BUMDes.

“Alhamdulillah modalnya sudah kembali. Pengurus BUMDes juga sudah mendapat gaji dan asetnya tetap menjadi milik desa sehingga ini menjadi investasi jangka panjang,” katanya.

Dari hasil panen pertama, keuntungan kembali diputar untuk memperluas usaha. Jumlah ikan nila yang semula sekitar 30 ribu ekor kini bertambah menjadi sekitar 45 ribu ekor setelah BUMDes kembali membeli bibit baru.

BUMDes juga telah memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes). Wahyu memperkirakan penerimaan desa dari unit usaha tersebut berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta di tahun 2025 lalu. Angka ini bisa naik pada tahun 2026 menjadi sekitar 20 juta

Baca juga:  Irigasi Lengkong Pini dan Makawa Desa Sampeang Resmi Dibangun, Layani 600 Hektare Sawah di Luwu

Sesuai mekanisme pengelolaan BUMDes, sebagian keuntungan akan menjadi pendapatan desa, sedangkan sisanya diputar kembali untuk pengembangan usaha.

Ke depan, keuntungan tersebut juga direncanakan untuk mendukung berbagai program sosial di desa, seperti pemberian beasiswa bagi anak-anak putus sekolah dan kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Saat ini sekitar 10 kepala keluarga telah terlibat dalam pengelolaan budidaya ikan nila. Melihat prospek usaha yang dinilai menjanjikan, semakin banyak warga yang menawarkan lahannya untuk dijadikan kolam budidaya.

Pemerintah Desa pun telah menyiapkan sekitar 2,4 hektare lahan tidur tambahan yang akan dikembangkan menjadi kawasan budidaya ikan nila.

“Saya berharap nantinya Desa Tenrigangkae bisa dikenal sebagai Desa Ikan Nila atau Kampung Nila di Kabupaten Maros,” tutupnya.

Reporter : Andi Alfath

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru