Desa Terkini, Pangkep – Wisata bahari di Pulau Kapoposang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, kini tidak hanya menawarkan keindahan bawah laut.
Wisatawan juga diajak berpartisipasi langsung dalam upaya pelestarian ekosistem melalui program transplantasi terumbu karang.
Program tersebut menjadi salah satu daya tarik yang dikembangkan Kapoposang Paradise Resort sebagai bagian dari konsep wisata berbasis konservasi.
Sebelum turun ke laut, wisatawan terlebih dahulu mendapatkan pelatihan dasar, termasuk cara memasang fragmen karang pada media tanam yang kemudian ditransplantasikan ke dasar laut.
Melalui program Adopsi Koral, wisatawan tidak hanya menikmati panorama bawah laut, tetapi juga ikut berkontribusi dalam pemulihan ekosistem terumbu karang. Bahkan, peserta yang belum memiliki sertifikat menyelam tetap dapat mengikuti kegiatan tersebut setelah mendapatkan pendampingan.
Direktur Utama Kapoposang Paradise Resort, Fidelis Randy Lili mengatakan konsep resort berawal dari perjalanan yang dilakukannya bersama sejumlah rekan penyelam pada 2020, saat pandemi Covid-19 membatasi berbagai aktivitas.

Menurutnya, keindahan Pulau Kapoposang mendorong lahirnya gagasan membangun penginapan yang tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan.
“Kami awalnya hanya ingin punya tempat berkumpul setelah menyelam. Tetapi setelah melihat potensi pulau ini, kami merasa harus membuat sesuatu yang manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, resort yang berada di kawasan Coral Triangle tersebut dikembangkan dengan mengedepankan konsep ekowisata.
Selain menyediakan akomodasi, pengelola juga mengajak setiap tamu memahami pentingnya menjaga kelestarian laut melalui berbagai aktivitas konservasi.
Fidelis mengatakan setiap transplantasi karang yang dilakukan wisatawan turut memberikan manfaat bagi masyarakat setempat karena prosesnya melibatkan kelompok pemuda Pulau Kapoposang.
Menurutnya, keberhasilan konservasi tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan masyarakat lokal.
Karena itu, sejak mulai beroperasi, sebagian besar tenaga kerja di resort direkrut dari warga Pulau Kapoposang.
Para pekerja kemudian mendapatkan pelatihan di Makassar untuk meningkatkan kemampuan di bidang perhotelan, mulai dari tata boga, tata graha, hingga pelayanan kepada tamu.
“Kami ingin anak-anak pulau menjadi pelaku utama pariwisata di kampungnya sendiri,” katanya.
Komitmen terhadap pelestarian lingkungan juga diterapkan dalam operasional resort.
Penggunaan plastik sekali pakai terus dikurangi dengan mendorong tamu membawa botol minum isi ulang, sementara sekitar 70 persen kebutuhan listrik dipenuhi melalui pemanfaatan panel surya.
Fidelis menilai upaya tersebut penting mengingat kawasan laut masih menghadapi ancaman kerusakan akibat pengeboman ikan maupun rusaknya terumbu karang yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih.
“Kita bisa membangun resort dalam hitungan bulan. Tetapi membangun kembali terumbu karang yang rusak bisa membutuhkan puluhan tahun. Karena itu, menjaga laut harus menjadi bagian dari pengalaman wisata,” tutupnya.
Saat ini Kapoposang Paradise Resort memiliki 10 kamar dengan tarif mulai Rp2,8 juta hingga Rp8 juta per malam.
Selain menawarkan pengalaman menginap di pulau, resort tersebut juga mengusung konsep wisata yang memadukan konservasi lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.
Pulau Kapoposang dapat diakses dari Makassar maupun Pangkep menggunakan speedboat maupun perahu nelayan.
Dari Makassar, perjalanan menggunakan speedboat melalui Popsa atau Kayu Bangkoa memakan waktu sekitar dua jam.
Sementara dari Pangkep, perjalanan menggunakan speedboat berkisar satu hingga tiga jam, sedangkan perahu nelayan dari Pelabuhan Mattiro Baji membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam.
Reporter : Andi Alfath



