Desa Terkini, Maros – Badan Pengelola Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark (MPUGGp) terus mematangkan persiapan menghadapi revalidasi UNESCO Global Geopark yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Juli 2026. Proses evaluasi tersebut akan menentukan keberlanjutan status UNESCO Global Geopark yang diraih kawasan Maros-Pangkep pada 2023.
General Manager Badan Pengelola Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark, Dedy Irfan Bachri, menjelaskan bahwa revalidasi merupakan mekanisme wajib yang diterapkan UNESCO kepada seluruh kawasan geopark dunia setiap empat tahun.
“UNESCO menetapkan bahwa setiap empat tahun status UNESCO Global Geopark akan direvalidasi atau ditinjau kembali. Yang akan dinilai adalah apakah status tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan yang ada di kawasan.”
Dedy mengatakan, sejak memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2023, pihaknya langsung bekerja menindaklanjuti enam rekomendasi yang diberikan UNESCO. Seluruh rekomendasi tersebut akan menjadi fokus penilaian tim evaluator saat melakukan kunjungan lapangan.
“Bagi kami sebagai Badan Pengelola Geopark Maros-Pangkep, waktu empat tahun itu terasa sangat singkat. Sejak ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2023, kami langsung fokus bekerja memenuhi enam rekomendasi yang diberikan UNESCO.”
Enam rekomendasi tersebut mencakup peningkatan pemahaman masyarakat mengenai Geopark Maros-Pangkep, penguatan promosi kawasan, serta penguatan upaya konservasi geologi, termasuk mitigasi dampak aktivitas pertambangan semen.
Selain itu, UNESCO juga mendorong peningkatan dukungan anggaran pengelolaan geopark, penguatan pendidikan geopark di sekolah-sekolah sekitar kawasan, perluasan kemitraan dengan berbagai sektor ekonomi seperti pelaku UMKM, kuliner, dan transportasi, serta peningkatan keterlibatan dalam jaringan geopark dunia.
Menurut Dedy, pengembangan geopark merupakan bagian dari program strategis nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark).
Saat ini terdapat 229 UNESCO Global Geopark yang tersebar di 50 negara. Indonesia memiliki 12 UNESCO Global Geopark dan Maros-Pangkep menjadi satu-satunya yang berada di Pulau Sulawesi.
“Maros-Pangkep memiliki kekayaan geologi yang luar biasa. Kawasan karst ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati, budaya, hingga situs prasejarah yang sangat bernilai.”
Ia mengungkapkan, kawasan karst Maros-Pangkep hingga kini telah mencatatkan penemuan 724 situs prasejarah. Namun, penelitian mendalam baru menjangkau sekitar 40 persen kawasan sehingga peluang ditemukannya situs-situs baru masih terbuka lebar.
“Saat ini telah ditemukan 724 situs prasejarah di kawasan Maros-Pangkep. Itu pun baru sekitar 40 persen kawasan karst yang diteliti secara mendalam, sehingga peluang ditemukannya situs-situs baru masih sangat besar.”
Dedy menegaskan, keberhasilan mempertahankan status UNESCO Global Geopark memerlukan dukungan seluruh unsur pentahelix, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, BUMN, media hingga masyarakat.
“Status UNESCO Global Geopark bukanlah status permanen. Karena itu, kami harus membuktikan bahwa status ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi kawasan.”
Untuk menyambut kedatangan tim evaluator, Badan Pengelola telah menyiapkan dua kali gladi kotor dan satu kali gladi bersih. Evaluasi akan dilakukan oleh dua asesor UNESCO, yakni Boljan Rezun dan Xiaobing Yu, yang dijadwalkan berada di Maros dan Pangkep selama lima hari empat malam.
“Dua asesor yang akan datang adalah Boljan Rezun dan Xiaobing Yu. Keduanya telah menghubungi kami dan menyatakan siap melakukan evaluasi di Maros-Pangkep.”
Selama proses penilaian, kedua asesor akan mengunjungi sejumlah lokasi, antara lain sekolah, Sekretariat Geopark, Karenta, Bantimurung, Leang-Leang, Kampung Berua, Ramang-Ramang hingga Pulau Karanrang. Mereka juga akan bermalam di homestay milik warga untuk melihat secara langsung keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan geopark.
“Kami sengaja memperlihatkan bagaimana masyarakat terlibat langsung dalam pengelolaan Geopark, termasuk atraksi budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.”
Perjalanan dari Maros menuju Pangkep juga akan dilakukan menggunakan kereta api agar evaluator dapat menikmati bentang alam kawasan karst. Selama kunjungan tersebut, mereka juga akan diperlihatkan perkembangan infrastruktur, investasi sektor pariwisata, sentra UMKM hingga aktivitas industri yang berada di kawasan geopark.
“Kami tidak menutupi keberadaan pabrik semen di kawasan Geopark. Justru Direktur Semen Bosowa akan menjelaskan langsung kepada asesor mengenai keberadaan industri tersebut serta kontribusinya terhadap kawasan.”
Sebagai bagian dari penguatan identitas lokal, seluruh panel informasi di kawasan Geopark kini telah menggunakan tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Makassar. Edukasi kepada generasi muda juga diperkuat melalui program Geopark Corner yang dikembangkan di sejumlah sekolah.
“Status UNESCO bukan berarti meninggalkan identitas daerah. Justru kami memperkuat identitas lokal melalui penggunaan bahasa daerah dalam seluruh informasi Geopark.”
Setelah seluruh agenda lapangan selesai, tim asesor dijadwalkan menyampaikan hasil evaluasi sekaligus memberikan pelatihan mengenai tata kelola geopark. Masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi Badan Pengelola Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark dalam meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan di masa mendatang.



