29.3 C
Makassar
Senin, Agustus 3, 2026

Ohoi Elaar Lamagorang Disiapkan Jadi Desa Wisata Unggulan di Maluku Tenggara

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Makassar – Ohoi Elaar Lamagorang di Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara diproyeksikan menjadi salah satu desa wisata unggulan di Kepulauan Kei.

Diketahui Ohoi merupakan sebutan desa di wilayah Kepulauan Kei.

Didukung kekayaan wisata bahari dan budaya lokal, desa tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi berbasis masyarakat yang memanfaatkan teknologi digital tanpa meninggalkan identitas budaya.

Penguatan arah pengembangan itu mengemuka dalam sosialisasi bertajuk “Transformasi Tata Kelola Pariwisata Berbasis Komunitas, Teknologi Milenial, dan Potensi Lokal Ohoi Elaar Lamagorang” yang diselenggarakan melalui kolaborasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama masyarakat setempat, Sabtu 1 Juli 2026.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara, Budi Toffi, mengatakan Ohoi Elaar Lamagorang memiliki modal yang kuat untuk berkembang sebagai desa wisata unggulan.

Baca juga:  Zulhas Buka Peluang Kopdes Merah Putih Kembangkan Desa Wisata dan Desa Tematik

Kawasan ini menawarkan bentang alam pesisir dengan pantai berpasir putih, perairan yang jernih, kawasan terumbu karang untuk aktivitas snorkeling, wisata memancing tradisional, wisata perahu, hingga potensi pengembangan sunrise point, kafe pesisir, dan wisata edukasi konservasi laut.

Tidak hanya mengandalkan wisata bahari, Ohoi Elaar Lamagorang juga memiliki kekayaan budaya yang menjadi daya tarik tersendiri.

Tradisi Hukum Adat Larvul Ngabal, tari adat Kei, tradisi penyambutan tamu, serta kuliner khas seperti enbal, aneka olahan hasil laut, dan makanan berbahan dasar sagu menjadi identitas yang dapat memperkuat daya saing destinasi.

Peran Pokdarwis

Selain itu, pengembangan desa wisata tidak hanya bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga bergantung pada kemampuan masyarakat mengelola destinasi secara profesional dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Menurutnya, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) kini memiliki peran yang jauh lebih luas dibanding sebelumnya.

Baca juga:  Revalidasi Dimulai, Bisakah Maros-Pangkep Kembali Lolos Penilaian UNESCO Global Geopark?

Selain mengelola destinasi, Pokdarwis juga menjadi penggerak masyarakat, kreator konten digital, hingga inovator yang mampu menghadirkan pengalaman wisata berkualitas bagi pengunjung.

“Pokdarwis harus mampu beradaptasi dengan era digital. Mereka menjadi motor penggerak masyarakat dalam mengelola destinasi, mempromosikan potensi wisata melalui media digital, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya lokal,” ujarnya.

Budi menjelaskan, desa wisata saat ini dituntut mampu mengintegrasikan teknologi digital dalam berbagai aspek, mulai dari promosi, pemasaran, layanan wisata, hingga peningkatan pengalaman wisatawan.

Meski demikian, pemanfaatan teknologi tetap harus berjalan seiring dengan pelestarian budaya dan kearifan lokal.

Ia menambahkan, pemerintah mengelompokkan desa wisata ke dalam empat kategori, yakni Rintisan, Berkembang, Maju, dan Mandiri.

Program tersebut menjadi salah satu prioritas nasional karena dinilai mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mengurangi urbanisasi.

Baca juga:  Museum Marsinah Resmi Dibuka Presiden Prabowo, Perkuat Desa Wisata Sejarah

“Dengan berkembangnya desa wisata, peluang usaha masyarakat seperti homestay, kuliner, jasa pemandu wisata, hingga ekonomi kreatif akan tumbuh sehingga perputaran ekonomi tetap berada di desa,” katanya

Menurut Budi, keberhasilan pengembangan desa wisata sangat bergantung pada kolaborasi berbagai pihak.

Melalui pendekatan pentaheliks, masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan media diharapkan dapat bersinergi dalam memperkuat tata kelola pariwisata yang berkelanjutan.

Ia juga menjelaskan pembentukan Pokdarwis diawali dengan pemetaan potensi desa dan sosialisasi sadar wisata, kemudian dilanjutkan dengan pembentukan organisasi, penyusunan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), hingga penerbitan surat keputusan sebagai bentuk legalitas.

Tahapan tersebut kemudian diperkuat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, sertifikasi pemandu wisata, serta inkubasi program pariwisata.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru