22.8 C
Makassar
Senin, Agustus 3, 2026

Revalidasi Dimulai, Bisakah Maros-Pangkep Kembali Lolos Penilaian UNESCO Global Geopark?

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Maros – Status UNESCO Global Geopark (UGGp) yang disandang Maros-Pangkep kembali dipertaruhkan. Selama empat hari, 28-31 Juli 2026, dua asesor UNESCO dari Korea Selatan (Soojae Lee dan China (Xiaoping Qiu) akan menilai sejauh mana kawasan karst terbesar kedua di dunia itu mampu mempertahankan standar pengelolaan, konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Hari pertama penilaian diisi dengan kunjungan ke sejumlah geosite, situs budaya, kawasan konservasi, hingga desa wisata sebagai bagian dari evaluasi terhadap pengelolaan kawasan geopark berstatus dunia tersebut.

Agenda dimulai dengan kunjungan ke SDN 2 Unggulan Maros untuk melihat implementasi edukasi geopark di lingkungan sekolah.

Selanjutnya, tim asesor mengunjungi Sekretariat Badan Pengelola Geopark sebelum bergerak menuju Cagar Alam Karaengta.

Rombongan kemudian meninjau Penangkaran kupu-kupu Bantimurung, Air Terjun Bantimurung, serta Taman Arkeologi Leang-Leang yang menjadi salah satu situs budaya penting di kawasan karst Maros-Pangkep.

Pada siang hingga sore hari, tim melanjutkan perjalanan menuju Situs Geologi Karst Rammang-Rammang melalui jalur sungai menuju Kampung Berua.

Di lokasi tersebut, asesor melihat langsung pengelolaan desa wisata berbasis masyarakat, aktivitas ekonomi warga, hingga menikmati atraksi kelelawar saat matahari terbenam.

Rangkaian hari pertama ditutup dengan jamuan makan malam dan pertunjukan budaya sebelum tim asesor menggelar evaluasi internal.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Maros, Suwardi Sawedi, mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros telah menyiapkan seluruh kebutuhan untuk menghadapi proses revalidasi UNESCO.

“Kita sudah siapkan segala upaya dan daya untuk melakukan revalidasi agar Maros-Pangkep bisa tetap menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark,” katanya.

Menurut Suwardi, status UNESCO Global Geopark merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi masyarakat Maros dan Pangkep.

Baca juga:  APDESI Sulsel Minta Dana Desa 2027 Ditambah, Zulhas Janji Tunda Potong Anggaran

Ia menilai kawasan karst Maros-Pangkep memiliki nilai geologi yang sangat istimewa di tingkat dunia.

“Karena ini bagian dari warisan dunia di Maros dan Pangkep yang luar biasa. Dari 12 UNESCO Global Geopark yang telah ditetapkan di Indonesia, Maros ini dari guguran karstnya terluas dan terpanjang di dunia setelah China Selatan. Segala keindahan, flora fauna yang bagian dari kita menjaga sebaik-baiknya agar tetap menjadi warisan dunia,” ujarnya.

Suwardi menegaskan keberhasilan mempertahankan status UNESCO tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga keterlibatan masyarakat.

“Pelibatan masyarakat kita maksimalkan, pemberdayaan, dan status ini tetap kita sandang maka kita akan sangat berbangga dan bersyukur. Pemkab Maros menyambut dengan kebanggaan yang luar biasa,” katanya.

Ia menjelaskan pemberdayaan pelaku usaha mikro juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan geopark.

“Pelibatan UMKM di tiap destinasi khususnya di Maros kita berikan peluang melibatkan dan mempersilahkan bagaimana bisa melakukan usaha.”

Suwardi mencontohkan di kawasan Bantimurung, para pedagang suvenir maupun makanan tidak dibebankan biaya tertentu untuk berjualan.

“Di Bantimurung ini contohnya penjual suvenir, makanan dan lainnya kita tidak kenakan biaya ataupun tarif tertentu untuk masuk berusaha menjual. Cuma kita berharap karena ini bagian yang harus kita jaga bersama termasuk kepada UMKM,” tuturnya.

Di sisi lain, sektor pariwisata Maros juga menunjukkan tren positif sepanjang 2026.

Meski sempat terdampak cuaca ekstrem pada awal tahun dan penurunan kunjungan saat Ramadan, jumlah wisatawan kembali meningkat setelah Idulfitri, Iduladha hingga musim libur sekolah.

“Dibandingkan tahun 2025 sebelumnya, kita di tahun 2026 kenaikan PAD sangat signifikan di sektor pariwisata,” katanya.

Baca juga:  Kupas Masalah Lokal, Apdesi Sulsel Akan Bawa Seminar Nasional Kopdes ke Makassar

Ia menyebut pendapatan dari penjualan tiket destinasi wisata hingga Juli 2026 telah mendekati Rp2,5 miliar, meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai sekitar Rp1,3 miliar.

Selain itu, jumlah kunjungan wisatawan kini rata-rata mencapai sekitar 5.000 orang per hari.

Menurut Suwardi, peningkatan tersebut juga didorong kebijakan penurunan harga tiket masuk bagi pelajar dan mahasiswa hingga sekitar 50 persen.

“Sekarang khusus pelajar weekday Rp15 ribu dan weekend Rp20 ribu, jadi ini daya tarik yang membuat orang bergairah ke Bantimurung karena tiket sudah diturunkan 50 persen,” ujarnya.

Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman menyebut tim UNESCO menegaskan tidak ada geopark yang benar-benar sempurna di dunia. Karena itu, evaluasi yang dilakukan bukan untuk mencari kekurangan semata, melainkan menjadi bagian dari proses pembinaan agar pengelolaan geopark terus ditingkatkan.

“Menurut mereka tidak ada geopark yang sempurna di seluruh dunia. Jadi kami akan terus didampingi dan dibantu untuk melakukan berbagai pembenahan,” ujarnya.

Anggota DPRD Sulsel, Irfan AB, berharap seluruh pemangku kepentingan memiliki komitmen yang sama untuk mempertahankan status UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep.

“Saya kira mudah-mudahan menjadi komitmen kepada seluruh pihak untuk tetap Geopark Maros-Pangkep mendapat predikat UNESCO Global Geopark.” ungkapnya kepada awak media.

Ia menilai status tersebut bukan sekadar prestise internasional, melainkan amanah untuk menjaga kekayaan alam bagi generasi mendatang.

“Ini bukan prestise tapi tanggung jawab, anugerah Tuhan yang bukan hanya terpublikasi tapi kita jaga bersama untuk kepentingan generasi yang akan datang.”

Irfan yang juga politisi Partau Amanat Nasional (PAN) itu menambahkan DPRD Sulsel telah memberikan dukungan melalui regulasi perlindungan kawasan karst dan akan terus mengawal melalui fungsi legislasi, anggaran, serta pengawasan.

Baca juga:  Dari Kandang Bebek Menjadi Rumah Koran, Kisah Desa Kanreapia Bangun Pertanian Lewat Literasi

“Saya optimis. Salah satu dukungan kita adalah adanya perda yang kita terbitkan, Perlindungan Kawasan Esensial Karst Maros-Pangkep dan insya Allah kita akan melanjutkan lagi dengan dukungan-dukungan yang lain dalam bentuk kebijakan, anggaran maupun pengawasan sesuai tugas dan fungsi kami sebagai DPRD Sulsel.” terangnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Maros, A. Muetazim Mansyur menyampaikan pemerintah daerah (pemda) bersama berbagai pemangku kepentingan terus memperkuat kolaborasi untuk menjaga warisan geologi Maros-Pangkep.

“Pemkab Maros dan stakeholder lainnya, di sini ada GM Angkasa Pura, kita berkolaborasi bagaimana merawat warisan geologi yang diberikan Maros dari Tuhan Yang Maha Esa.” singkatnya.

General Manager (GM) Angkasa Pura Bandara Sultan Hasanuddin, Ruly Artha juga menyatakan dukungannya terhadap proses revalidasi tersebut. Dukungan diberikan sejak kedatangan tim asesor di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin melalui penyambutan budaya serta penyediaan informasi mengenai destinasi geopark.

“Alhamdulillah pada kesempatan ini kami berkolaborasi dengan Pemkab Maros dan Pangkep agar kegiatan revalidasi untuk geopark berjalan baik.” pintanya.

“Adapun penyambutan dimulai dari bandara saat landing. Ada berbagai macam tarian yang disajikan oleh Pemkab dan photo booth untuk menyajikan informasi terkait destinasi wisata di Geopark Maros-Pangkep.” sambungnya.

Ia menambahkan pihak pengelola bandara telah lama mendukung promosi Geopark Maros-Pangkep sebagai bagian dari pengembangan pariwisata.

“Kami pengelola bandara mensupport revalidasi Geopark Maros-Pangkep. Di bandara kami dulu support kami angkat geopark sebagai bagian dari tourism development.” tutupnya.

Reporter : Andi Alfath

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru