34 C
Makassar
Selasa, November 3, 2026

Karhutla Ancam Kawasan Geopark Maros-Pangkep, Kunjungan Wisatawan Anjlok

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Maros – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan (Sulsel), diperkirakan telah menghanguskan hampir 60 hektare lahan. Kebakaran tersebut terjadi di wilayah UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep dan mulai berdampak terhadap kunjungan wisatawan.

General Manager (GM) Badan Pengelola Kawasan Warisan Dunia Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark, Dedy Irfan Bachri, membenarkan bahwa kebakaran terjadi di dalam kawasan taman nasional. Titik api terutama ditemukan di wilayah puncak karst dan vegetasi hutan bambu.

“Kebakaran yang terjadi hampir bisa dipastikan ada di dalam kawasan Taman Nasional. Informasi dari pihak Taman Nasional menyampaikan luasannya sudah sekitar hampir 60 hektar, utamanya di atas Leang Kasi di Leang Minasatene,” ujar Dedy, Kamis 16 Oktober 2026.

Menurut Dedy, vegetasi hutan bambu di kawasan puncak karst cukup rentan terbakar, terutama saat musim kemarau panjang.

Meski demikian, kebakaran sejauh ini belum menjangkau lokasi lukisan dinding gua purba yang menjadi bagian penting dari warisan dunia di kawasan tersebut.

Baca juga:  Bukan di Lapangan, Warga Desa di Kalbar Ini Gelar Upacara HUT RI di Lahan Bekas Karhutla

Ia menyebut sejumlah situs prasejarah, seperti Pulu Sipong 4, Leang Tedongnge di Biku, dan Bulu Karampuang, masih berada jauh dari titik kebakaran.

“Posisi titik kebakaran apinya saat ini masih berada jauh dari titik lokasi lukisan dinding gua purba. Baik yang ada di Pulu Sipong 4, Leang Tedongnge di Biku, maupun di Bulu Karampuang. Di Pulu Sipong 4 sendiri dua hari lalu saya ke sana dan riset masih berjalan,” jelasnya.

Namun, Dedy mengingatkan potensi meluasnya kebakaran jika kondisi kering terus berlangsung tanpa hujan. Perluasan titik api dikhawatirkan dapat mengancam kawasan lain, termasuk area yang memiliki situs sejarah.

Dua Titik Api Jadi Perhatian

Penanganan karhutla saat ini difokuskan pada dua titik api utama di Kabupaten Pangkep.

Satu titik api di wilayah Minasatene dilaporkan telah berhasil dipadamkan. Sementara titik api baru muncul di kawasan Batu Napara, Kecamatan Balocci, pada Rabu 15 Oktober 2026 malam.

Baca juga:  Sekretariat dan Ambulans Apdesi Bantaeng Diresmikan, Ini Harapan Wabup Sahabuddin

“Titik api yang di Batu Napara Balocci ini baru menyala dan masih dalam kawasan Taman Nasional. Pihak Balai Taman Nasional bekerja sama dengan BPBD, TNI, Polri, dan unsur relawan di lapangan terus berkoordinasi untuk saling support memadamkan api,” kata Dedy.

Sejauh ini, belum ada destinasi wisata utama yang dilaporkan terdampak langsung kebakaran. Meski begitu, pengelola tetap meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah objek wisata berada di sekitar kaki kawasan karst.

Destinasi tersebut antara lain Leang-leang, Sumpang Bita, dan Bantimurung.

“Beberapa jenis destinasi yang itu berada di kaki karst. Nah, itu memang perlu diwaspadai tapi sampai saat ini belum ada destinasi di sekitar kawasan yang terdampak,” ujarnya.

Kunjungan Wisatawan Menurun

Di luar ancaman terhadap kawasan hutan dan situs prasejarah, karhutla serta cuaca ekstrem mulai memberikan dampak terhadap sektor pariwisata Maros-Pangkep.

Berdasarkan hasil rapat kerja Badan Pengelola Geopark Maros-Pangkep bersama para pengelola destinasi, terjadi penurunan signifikan jumlah kunjungan wisatawan selama musim kemarau.

Baca juga:  Uji Pendapat Dikabulkan MA, DPRD Gowa Bakal Lanjutkan Proses Pemberhentian Husniah Jadi Bupati

Dedy mengatakan, sejumlah pengelola destinasi, termasuk Leang-leang, mengeluhkan penurunan kunjungan. Kondisi cuaca dan paparan asap diduga membuat masyarakat maupun wisatawan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

“Para pengelola destinasi, seperti di Leang-leang, mengeluhkan jumlah kunjungan wisata yang menurun drastis selama musim kering ini. Masyarakat dan wisatawan tampaknya menahan diri untuk beraktivitas di luar rumah akibat kondisi cuaca dan paparan asap,” ungkapnya.

Dedy mengimbau masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan masker guna mengurangi paparan asap.

Wisatawan yang berkunjung ke Rammang-rammang, Leang-leang, Bantimurung, hingga Sumpang Bita juga diminta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Kami menyarankan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas yang menimbulkan percikan api, seperti membuang puntung rokok sembarangan. Bagi yang melakukan aktivitas camping, sebaiknya hindari dulu membuat api unggun atau memasak yang memicu pembakaran,” imbau Dedy.

Reporter : Andi Alfath

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Populer