Desa Terkini, Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah Indonesia di tengah kondisi musim kemarau. Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat pemadaman, pendinginan, patroli, hingga deteksi dini untuk mencegah kebakaran meluas.
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan, sebanyak 6.504 titik panas atau hotspot terdeteksi di Indonesia dalam pemantauan 24 jam terakhir hingga Rabu 19 Agustus 2026.
Jumlah tersebut meningkat 903 titik dibandingkan periode pemantauan sebelumnya. Data hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA itu diakses pada Rabu 19 Agustus 2026 pukul 11.35 WIB.
Dari total hotspot tersebut, sebanyak 471 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi, 5.806 titik tingkat sedang, dan 227 titik tingkat rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi dalam tiga kategori. Skala rendah berada pada rentang 0-29, sedang 30-79, dan tinggi 80-100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar kemungkinan titik tersebut menunjukkan adanya kebakaran.
Kalimantan Jadi Wilayah dengan Hotspot Terbanyak
Kalimantan menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi. Kalimantan Tengah mencatat jumlah terbanyak dengan 2.063 titik, disusul Kalimantan Barat sebanyak 1.982 titik.
Sementara itu, Kalimantan Selatan tercatat memiliki 512 hotspot dan Kalimantan Timur 507 titik. Di luar Kalimantan, Sumatera Selatan mencatat 216 hotspot, Papua Selatan 196 titik, dan Nusa Tenggara Timur 145 titik.
Kalimantan Utara tercatat memiliki 110 hotspot, sedangkan Sulawesi Selatan sebanyak 102 titik. Adapun Kepulauan Bangka Belitung mencatat 76 hotspot dalam periode pemantauan tersebut.
Data ini menunjukkan ancaman karhutla masih tersebar di sejumlah kawasan Indonesia dengan tingkat intensitas yang berbeda.
Bromo Sempat Menyala
Di Jawa Timur, penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) juga menjadi salah satu perhatian, karena menjadi lokasi wisata yang banyak didatangi.
Kebakaran telah berlangsung sejak 3 Agustus 2026 lalu dan telah berhasil dikendalikan. Setelah proses penanganan kebakaran dinyatakan selesai, kawasan wisata TNBTS dijadwalkan kembali menerima wisatawan mulai Kamis, 20 Agustus 2026.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan hal tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 18 Agustus 2026.
Menurut Raja Juli, kebakaran di kawasan Bromo berlangsung selama 13 hari sebelum akhirnya berhasil dikendalikan. Penanganan dilakukan melalui kerja sama berbagai kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta unsur terkait lainnya.
“Kebakaran yang terjadi selama 13 hari, alhamdulillah, akhirnya dapat dipadamkan berkat kerja sama berbagai macam kementerian dan lembaga beserta pemerintah daerah,” kata Raja Juli.
Operasi melibatkan Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara bersama Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, BPBD Jawa Timur, relawan, serta masyarakat.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, mengatakan terkendalinya api tidak berarti ancaman karhutla telah sepenuhnya berakhir.
“Bromo memberi satu pelajaran penting, api mungkin sudah terkendali tetapi ancaman karhutla belum selesai. Pencegahan harus diperkuat dari tingkat tapak, dan pengelola kawasan perlu terus memperkuat keterlibatan masyarakat, bukan hanya dalam pencegahan kebakaran tetapi juga dalam pengelolaan taman nasional. Masyarakat adalah pihak yang paling dekat dengan kawasan, sering kali menjadi yang pertama mengetahui adanya gangguan, sekaligus yang paling terdampak ketika terjadi kebakaran. Karena itu, melindungi hutan harus dilakukan bersama masyarakat,” tegasnya.
Karhutla Meningkat di Sulsel
Ancaman karhutla turut terjadi di Sulawesi Selatan. Kondisi musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino disebut meningkatkan risiko kebakaran lahan kering sepanjang Juli hingga Agustus 2026.
Sejumlah wilayah seperti Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Parepare, hingga Makassar mencatat kejadian kebakaran lahan maupun permukiman.
Di Kabupaten Enrekang, kebakaran di kawasan pegunungan Gunung Nona dilaporkan menghanguskan sekitar 10 hektare lahan.
Kebakaran lahan juga terjadi berulang di Tana Toraja sejak akhir Juli hingga awal Agustus. Sementara di Kecamatan Kesu’, Toraja Utara, sekitar satu hektare lahan terbakar dan diduga berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan menggunakan cara pembakaran.
Di wilayah perkotaan, Kota Parepare mencatat 106 kejadian kebakaran lahan sepanjang Juli 2026.
Sedangkan di Kota Makassar, terdapat 31 peristiwa kebakaran dalam periode 1-12 Agustus 2026. Kejadian tersebut terdiri atas 26 kebakaran alang-alang atau sampah, satu kawasan industri, serta kebakaran yang menghanguskan 47 rumah warga.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sulsel, Kasman, mengatakan sejumlah kebakaran telah berhasil ditangani tim gabungan.
“Terakhir kemarin di Enrekang, Gunung Nona itu kurang lebih 10 hektare terbakar. Terus beberapa waktu yang lalu juga ada di lahan, lahan terbakar di pare-pare. Itu juga sudah dilakukan penanganan dan kemarin juga sudah padam dan sudah dilakukan koordinasi semua baik lintas sektor, pusat, provinsi maupun daerah,” kata Kasman, Senin (17/8/2026).
Kabut Asap Ganggu Aktivitas Warga Banjarbaru
Sementara itu, dampak karhutla mulai dirasakan langsung masyarakat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Kabut asap pekat menyelimuti sejumlah kawasan Banjarbaru pada Rabu (19/8/2026) pagi, terutama di wilayah Landasan Ulin, Liang Anggang, Pengayuan hingga perbatasan Banjarbaru dengan Kabupaten Tanah Laut.
Kondisi tersebut membuat pengendara harus mengurangi kecepatan untuk menghindari kecelakaan. Warga juga diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan karena paparan asap dapat berdampak terhadap kesehatan.
Deteksi Dini Jadi Kunci
Kemenhut menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan setelah api membesar. Pemantauan hotspot, patroli, verifikasi lapangan, kesiapan personel, serta respons cepat menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran berkembang lebih luas.
Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan, Suharyono, mengatakan terkendalinya api di Bromo bukan berarti pekerjaan telah selesai.
“Hampir dua pekan personel bekerja menghadapi medan dan kondisi kebakaran yang tidak mudah. Terkendalinya api bukan akhir dari pekerjaan. Fokus sekarang memastikan seluruh area bekas terbakar benar-benar aman dan tidak ada bara yang kembali menyala. Terima kasih kepada seluruh petugas yang tetap bertahan sampai fase ini,” tegasnya.
Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko, juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, aparat, pengelola kawasan, relawan, dan masyarakat.
“Operasi pemadaman ini memperlihatkan kuatnya gotong royong di lapangan. BBTNBTS, BPBD Jawa Timur, relawan, dan masyarakat membantu suplai air, logistik, akses, hingga informasi yang dibutuhkan petugas. Dukungan itu sangat berarti bagi Manggala Agni yang bekerja di medan kebakaran. Kami mengapresiasi semua pihak yang ikut menjaga Bromo,” ujarnya.
Dengan 6.504 hotspot terdeteksi dalam 24 jam terakhir, ancaman karhutla masih menjadi persoalan serius di berbagai wilayah Indonesia. Penanganannya kini berjalan dalam beberapa tahap, mulai dari pemadaman api aktif, pendinginan kawasan yang telah terbakar, hingga deteksi dini terhadap titik panas yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran.
Reporter : Bayu


