28 C
Makassar
Selasa, November 3, 2026

161 Pelajar Tana Toraja Diduga Keracunan MBG, BBPOM Makassar Uji Sampel

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Tana Toraja – Jumlah pelajar yang mengalami dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, mencapai 161 orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 55 pelajar harus mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan setelah mengalami gejala seperti pusing, mual, muntah hingga diare.

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis 3 September 2026 dan melibatkan siswa SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale. Sejumlah siswa dilaporkan mulai mengalami keluhan kesehatan secara hampir bersamaan sejak pagi setelah menyantap makanan dalam program MBG.

Para siswa yang mengalami gejala kemudian dilarikan ke Puskesmas Makale untuk mendapatkan penanganan medis. Sebagian lainnya menjalani perawatan di tiga rumah sakit, yakni RS Lakipadada, RS Sinar Kasih, dan RS Fatimah.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Toraja memastikan seluruh pelajar yang terdampak mendapatkan penanganan medis. Penanganan juga dilakukan dengan melibatkan sejumlah instansi terkait.

Bupati Tana Toraja Zadrak Tombeng bersama Wakil Bupati Tana Toraja disebut turut memantau langsung kondisi para siswa yang menjalani perawatan di rumah sakit.

Baca juga:  PLN Rencana Tambah PLTS dan BESS untuk Kurangi Ketergantungan Sistem Sulbagsel

”Kami memastikan seluruh pelayanan kesehatan berjalan baik dan sesuai prosedur operasi standar. Kami berharap kondisi seluruh siswa bisa segera membaik,” kata Zadrak.

Sementara itu, penyebab pasti munculnya dugaan keracunan tersebut masih dalam penyelidikan kepolisian. Pemeriksaan dan pengujian terhadap makanan yang dikonsumsi para siswa menjadi bagian dari proses untuk mengetahui penyebab kejadian.

Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar, Yosef Dwi Irwan Prakasa Setiawan sampel terkait kasus keracunan yang terjadi di daerah umumnya dapat diperiksa di laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) maupun BBPOM Makassar.

Hasil pemeriksaan kemudian disampaikan kepada Dinas Kesehatan kabupaten/kota untuk ditindaklanjuti dan dikomunikasikan kepada masyarakat.

“Informasi sementara sampel memang akan diujikan di BBPOM Makassar,” tegasnya dalam keterangan tertulis yang diterima desaterkini.id, Kamis 3 September 2026.

Ia menambahkan, setiap kabupaten/kota telah memiliki Satgas MBG yang dapat dilibatkan dalam penanganan kasus maupun koordinasi terkait program Makan Bergizi Gratis.

Yosef juga menegaskan bahwa keamanan pangan tidak dapat hanya dibangun pada satu titik atau tahapan tertentu. Menurutnya, keamanan pangan harus dipastikan secara menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir. Proses tersebut mencakup bahan baku, tempat produksi, peralatan, penanganan dan penyimpanan bahan baku, penjamah pangan, proses pengolahan, pemorsian, distribusi hingga makanan diterima oleh penerima manfaat.

Baca juga:  Gubernur Sulbar Buka Liga Sepak Takraw Regional Sulawesi, Enam Provinsi Ambil Bagian

“Keamanan pangan tidak bisa hanya dibangun pada satu titik atau tahapan, namun harus utuh dari hulu sampai hilir,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya kesadaran mengenai budaya keamanan pangan diterapkan secara berkelanjutan, baik di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun di lingkungan penerima manfaat seperti sekolah.

Di lingkungan sekolah, misalnya, perlu dipastikan tersedianya fasilitas cuci tangan yang dilengkapi air mengalir, sabun cuci tangan dan lap kering. Para siswa juga perlu dibiasakan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum mengonsumsi makanan.

Selain kebersihan tangan, penggunaan alat makan yang bersih juga menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan pangan.

BBPOM Makassar juga mengingatkan bahwa makanan siap saji tidak boleh terlalu lama berada dalam kondisi yang memungkinkan pertumbuhan mikroorganisme. Makanan siap saji maksimal berada selama empat jam dan harus segera dikonsumsi.

Baca juga:  Tak Kembalikan Dana Temuan BPK, BGN Ancam Tutup Permanen Dapur MBG

Risiko tersebut menjadi perhatian khusus terhadap makanan yang mengandung daging, unggas, ikan dan telur atau yang disebut produk DUIT. Keempat jenis pangan tersebut memiliki kandungan protein tinggi yang baik bagi metabolisme tubuh, tetapi juga berpotensi menjadi media pertumbuhan mikroba apabila penanganan dan penyimpanannya tidak dilakukan dengan benar.

“Program yang baik tentunya harus dieksekusi dengan baik. Saat bicara masalah keamanan pangan, ini merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai suatu bangsa. Bukan pangan jika tidak aman,” kata Yosef.

BBPOM juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi makanan apabila sudah terdapat penyimpangan secara fisik, baik dari penampakan, aroma maupun rasa.

Terkait hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan, waktu yang dibutuhkan bergantung pada parameter yang diuji. Untuk pemeriksaan mikrobiologi, misalnya, prosesnya membutuhkan waktu inkubasi sekitar tiga hingga lima hari.

Reporter : Andi Alfath

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Populer