23.8 C
Makassar
Senin, Agustus 3, 2026

Tim Pengabdian Unhas Bantu BUMDes Tea Malala Produksi Tepung Sukun Berkualitas

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Makassar – Universitas Hasanuddin (Unhas) mendorong peningkatan nilai tambah komoditas sukun melalui penerapan teknologi pengolahan pangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Temmapettue bersama masyarakat Desa Tea Malala, Kabupaten Bone.

Desa Menginspirasi — Setiap desa memiliki cerita yang layak dibagikan. Melalui program ini, desaterkini.id menghadirkan praktik baik yang dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa di seluruh Indonesia.

Selama ini buah sukun umumnya dipasarkan dalam kondisi segar dengan masa simpan yang terbatas, sehingga potensi ekonominya belum dimanfaatkan secara maksimal.

Upaya tersebut diwujudkan melalui program pelatihan teknologi pengolahan tepung sukun bagi pengelola BUMDes Temmapettue bersama masyarakat Desa Tea Malala, Kabupaten Bone. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang didukung pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) ini bertujuan membangun sistem produksi yang terstandar agar menghasilkan tepung sukun dengan kualitas yang konsisten dan memiliki daya saing lebih tinggi.

Pelatihan secara resmi dibuka Kepala Desa Tea Malala, Andi Syamsu Alam, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan kepada BUMDes Temmapettue dalam mengembangkan usaha tepung sukun. Menurutnya, penerapan teknologi pengolahan akan memperkuat kapasitas produksi sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualitas dan standar yang lebih baik, sekaligus memberi dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Baca juga:  Daftar Lengkap 122 Pejabat Unhas yang Resmi Dilantik Rektor Prof JJ

“Kami berharap tepung sukun dapat menjadi salah satu produk unggulan desa yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Andi Syamsu Alam.

Pengelola BUMDes Temmapettue yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Desa Tea Malala, Fitriani, Amd.Keb., mengatakan usaha produksi tepung sukun sebenarnya telah berjalan. Namun, hasil produksinya belum memiliki mutu yang seragam karena belum didukung standar operasional yang baku. Melalui pelatihan ini, diharapkan kualitas tepung sukun menjadi lebih stabil sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar sekaligus memperluas peluang pemasaran.

Ketua Tim Pengabdian Unhas, Dr. Muhammad Asfar, S.TP., M.Si., menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya memperkenalkan teknologi pengolahan, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem usaha berbasis potensi lokal yang berkelanjutan. Ia menilai sukun memiliki kandungan pati yang tinggi dan berpotensi menjadi bahan baku berbagai produk pangan, namun pemanfaatannya masih terkendala masa simpan buah yang singkat.

Baca juga:  BUMDes Tenrigangkae Sulap Lahan Tidur Jadi Cuan Lewat Sentra Budidaya Ikan Nila

“Kita ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sukun. Jangan hanya dijual sebagai buah segar ketika musim panen, tetapi diolah menjadi tepung yang memiliki umur simpan lebih panjang, mutu yang lebih baik, dan dapat menjadi bahan baku berbagai produk pangan bernilai tambah,” kata Dr. Asfar.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi sekaligus praktik langsung mengenai seluruh tahapan pembuatan tepung sukun. Proses yang dipelajari meliputi sortasi bahan baku, pengupasan, pengirisan, blanching, pengeringan, penepungan, hingga pembuatan tepung sukun termodifikasi menggunakan teknologi pregelatinisasi.

Secara teknis, proses blanching diterapkan untuk menghambat aktivitas enzim yang menyebabkan pencokelatan sehingga warna dan kualitas tepung tetap terjaga. Sementara teknologi pregelatinisasi digunakan untuk memodifikasi struktur pati agar menghasilkan tepung dengan karakteristik fungsional yang lebih baik serta lebih mudah dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan.

Menurut Dr. Asfar, tepung sukun merupakan produk antara (intermediate product) yang memiliki prospek lebih luas dibandingkan penjualan buah segar. Produk tersebut dapat diolah menjadi beragam makanan bernilai tambah seperti cookies, brownies, bolu, aneka kue tradisional, hingga produk pangan inovatif lainnya.

Baca juga:  Ratusan Mahasiswa Unismuh Makassar Dibekali Jadi Dai untuk Dakwah di Desa

Seluruh rangkaian pelatihan dilaksanakan menggunakan metode learning by doing sehingga peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga mempraktikkan secara langsung setiap tahapan produksi sesuai standar yang diperkenalkan.

Melalui penguatan kapasitas produksi berbasis teknologi tersebut, Tim Fakultas Teknologi Pertanian Unhas berharap BUMDes Temmapettue mampu berkembang menjadi pusat pengolahan tepung sukun di Desa Tea Malala sekaligus menjadi motor pengembangan industri pangan lokal berbasis komoditas unggulan Kabupaten Bone.

“Harapan kami, Desa Tea Malala tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil sukun, tetapi juga sebagai sentra tepung sukun berkualitas yang mampu memasok kebutuhan industri dan UMKM, serta menjadi produk unggulan Kabupaten Bone yang dapat dipasarkan hingga ke berbagai daerah di Indonesia,” tutup Dr. Asfar.

Usai pelatihan ini, diharapkan standar produksi tepung sukun yang telah diperkenalkan dapat diterapkan secara berkelanjutan sehingga produk BUMDes Temmapettue semakin kompetitif dan mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Desa Tea Malala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru