23.8 C
Makassar
Senin, Agustus 3, 2026

Tiga Mahasiswa Ini Kembangkan Solusi Desa Wisata, Raih Penghargaan Bakti BCA

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Surabaya – Tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil mengharumkan nama kampus setelah meraih prestasi pada ajang nasional Genera-Z Berbakti 2026, program pengabdian masyarakat yang diselenggarakan Bakti BCA untuk mendorong inovasi pembangunan desa wisata binaan.

Tim bernama Amerta Pertiwi yang terdiri atas Usamah (Fakultas Sains dan Teknologi/FST 2024), Muhammad Adib (FIKKIA 2023), dan Regina Saraswati (FIKKIA 2024) sukses masuk empat besar terbaik setelah melewati serangkaian tahapan seleksi dan implementasi program di Desa Wisata Patak Banteng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Pada tahap akhir kompetisi, setiap finalis tidak hanya mempresentasikan gagasan, tetapi juga diwajibkan menerapkan program yang telah dirancang di desa binaan sebelum dilakukan penilaian bersama peserta dari empat perguruan tinggi lainnya.

Baca juga:  DPRD Gowa Kecewa, Husniah Talenrang Walk Out dari Sidang Pansus Hak Angket, Ini Alasannya

Ketua Tim Amerta Pertiwi, Usamah, menjelaskan bahwa program yang mereka usung disusun berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat Desa Patak Banteng.

Meski menjadi salah satu destinasi wisata yang berkembang karena merupakan jalur pendakian menuju Gunung Prau, desa tersebut masih menghadapi sejumlah persoalan.

“Desa Patak Banteng adalah salah satu wisata dengan roda ekonomi pesat karena menjadi tempat jalur untuk naik ke Gunung Prau. Namun, mereka masih menghadapi masalah krusial seperti pengelolaan sampah, tingginya angka stunting akibat pola asuh yang kurang, pemadaman listrik, dan masalah pertanian yang mana mulai muncul virus yang membabat ladang warga,” ujar Usamah.

Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, tim Amerta Pertiwi merancang tiga program utama. Program Rumah Inovasi difokuskan pada upaya penanganan stunting sekaligus pemberdayaan kader perempuan Srikandi.

Baca juga:  Momen Salah Ucap di Paripurna DPRD Gowa, Darmawangsyah Muin Disebut Bupati

Selanjutnya, Rumah Kompos dikembangkan sebagai pusat edukasi pengelolaan dan pemilahan sampah. Sementara itu, Rumah Bibit diarahkan untuk mendukung pengembangan agrowisata serta pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Piko Hidro (PLTPH).

Pelaksanaan program melibatkan berbagai pihak di tingkat desa. Tim bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), komunitas Ranger yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan, kader posyandu, pemerintah desa, hingga tim operasional yang menangani sektor lingkungan.

Di balik keberhasilan tersebut, Usamah mengungkapkan bahwa proses kompetisi berlangsung penuh tantangan. Seluruh perjalanan peserta didokumentasikan sehingga berbagai momen emosional turut terekam.

“Sembari berkompetisi, kami juga di-shooting. Seluruh proses dari kompetisi terdokumentasi untuk jadi sebuah cerita yang menginspiratif bagi orang-orang. Sehingga akhir-akhir ini banyak berseliweran video kami tertekan dan menangis di depan panggung itu,” katanya.

Baca juga:  Guru-Guru Sidrap Ukir Prestasi, Juara Umum Porsenijar PGRI Sulsel 2026

Ia berharap program yang telah dirancang dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Patak Banteng sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa UNAIR untuk terus berkontribusi melalui kegiatan pengabdian masyarakat.

“Sebenarnya dalam pengabdian yang pertama itu berawal dari diri sendiri, barulah ke masyarakat. Intinya kita harus tetap selalu belajar di manapun kita berada,” tutup Usamah.

Reporter : Bayu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru