23.8 C
Makassar
Senin, Agustus 3, 2026

Program Segitiga Kemenag, ATR/BPN, dan Kejati Hasilkan 352 Sertifikat Tanah Wakaf Masjid di Sulsel

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Makassar – Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementrian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan (Sulsel) Ali Yafid memaparkan perkembangan program kolaborasi “Segitiga” yang melibatkan Kanwil Kemenag Sulsel, Kantor Wilayah ATR/BPN, dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel untuk mempercepat sertifikasi tanah wakaf rumah ibadah secara gratis.

Menurut Ali Yafid, kolaborasi tersebut telah memberikan hasil signifikan dalam mempercepat legalisasi aset keagamaan di Sulawesi Selatan.

“Alhamdulillah, berkat program Segitiga ini, proses sertifikasi tanah wakaf melaju dengan sangat pesat. Jika sebelum adanya kerja sama ini sertifikasi rumah ibadah hanya berkisar antara 12 hingga 20 masjid saja per tahun, kini setelah satu tahun berjalan sejak MoU disepakati pada tahun 2025, tercatat sebanyak 352 masjid telah menyelesaikan disertifikasi secara gratis (Rp0),” ujarnya dalamPengajian dan Istiqosah bersama majelis taklim se-Kota Makassar dan sekitarnya di Masjid Raya Makassar, Kamis 9 Juli 2026 malam.

Baca juga:  Kelanjutan Bendungan Jenelata Masuk Tahap Konsultasi Publik, Penlok Diulang

Ia menjelaskan, program sertifikasi tanpa biaya itu diterapkan di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan melalui sinergi antara Kementerian Agama, ATR/BPN, dan Kejaksaan Tinggi. Ke depan, program tersebut juga akan diperluas untuk mencakup madrasah, pondok pesantren, hingga rumah ibadah agama lainnya.

Sebagai bentuk implementasi program tersebut, pada kesempatan itu dilakukan penyerahan simbolis sertifikat tanah wakaf kepada sejumlah pengurus masjid di Kota Makassar.

Masjid yang menerima sertifikat antara lain Masjid Muhajirin, Masjid Makkah Al-Mukarramah, Masjid Al-Wahdah/Al-Ghdar, Masjid Syajaratul Yaqin, dan Masjid Nurul Karim.

Selain menyampaikan capaian di bidang sertifikasi tanah wakaf, Ali Yafid juga mengungkapkan perkembangan positif Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) di Kota Makassar.

Menurutnya, kolaborasi antara Kemenag, Pemerintah Kota Makassar, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) berhasil meningkatkan indeks toleransi di ibu kota Sulawesi Selatan tersebut.

Baca juga:  KemenHAM Kirim Tim ke Adonara, Fokus Pemantauan Pascabentrok Dua Desa

“Jika tahun sebelumnya menurut rilis Setara Institute, Kota Makassar berada di kategori intoleran, maka tahun ini dengan bangga kami sampaikan posisi bahwa Makassar resmi masuk dalam sembilan besar kota terpadat yang paling rukun di Indonesia, kami optimis dengan sinergi yang terus berjalan, Makassar mampu menembus posisi tiga besar nasional di tahun mendatang,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam tausiahnya mengajak umat Islam memaksimalkan momentum-momentum istimewa dalam berdoa agar memperoleh keberkahan dan kemudahan dalam meraih ijabah dari Allah SWT.

“Roket pendorong doa itu memiliki dua dimensi utama, yaitu penggunaan waktu-waktu tertentu dan tempat-tempat khusus yang mulia,” ujar Nasaruddin.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu menjelaskan bahwa di antara waktu-waktu yang memiliki keutamaan untuk berdoa ialah malam Jumat, hari Jumat sebagai Sayyidul Ayyam, sepertiga malam terakhir, serta bulan suci Ramadan.

Baca juga:  DPR RI Wanti-Wanti Pelibatan TNI dalam Pengawasan Pajak Jangan Intimidatif

Selain waktu, ia juga menekankan pentingnya tempat yang digunakan untuk beribadah. Menurutnya, masjid merupakan tempat terbaik untuk bermunajat kepada Allah SWT. Namun apabila tidak memungkinkan datang ke masjid, umat Islam dianjurkan menghadirkan ruang ibadah khusus di rumah.

“Zawiah adalah sudut khusus dan permanen di dalam rumah kita yang bersih dari gangguan elektronik seperti televisi atau telepon. Tempat tersebut hanya diisi sajadah, mukena, Al-Qur’an, dan tasbih untuk bermeditasi, berhalwat, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT,” terang Nasaruddin Umar.

Di akhir tausiahnya, Menag mengingatkan jemaah agar tidak tergesa-gesa saat melaksanakan salat, khususnya ketika bersujud. Ia menyebut sujud sebagai puncak ibadah sekaligus momentum terdekat seorang hamba dengan Sang Pencipta.

“Hilangkan segala kesombongan diri saat bersujud, karena kita hanyalah hamba kecil yang diciptakan dari tanah,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru