35 C
Makassar
Kamis, September 17, 2026

Kemenpar Garap Pasar EduTourism Australia, Desa Wisata Jadi Andalan

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Makassar – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama Garuda Indonesia dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney mendorong perluasan pasar wisata edukasi atau EduTourism di Australia dengan memperkenalkan desa wisata Indonesia sebagai destinasi pembelajaran.

Melalui konsep tersebut, desa wisata tidak hanya ditawarkan sebagai tempat berlibur, tetapi juga sebagai ruang belajar yang memungkinkan wisatawan mengenal sejarah, seni, budaya, lingkungan, hingga kehidupan masyarakat secara langsung.

Upaya promosi itu dilakukan Kemenpar melalui rangkaian kegiatan pada 3-4 Agustus 2026. Program diawali dengan kegiatan “Indonesia Goes to School: Experience Wonderful Indonesia in the Classroom” di Claremont College, Sydney, pada 3 Agustus.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan wisata edukasi menjadi peluang penting untuk memperkenalkan Indonesia sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman belajar secara langsung.

Menurut dia, konsep tersebut memungkinkan Indonesia dipandang sebagai living classroom karena pengalaman wisata yang ditawarkan tidak hanya berkaitan dengan rekreasi, tetapi juga budaya, alam, dan kehidupan masyarakat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia menawarkan pengalaman belajar yang autentik dan berkesan, tidak hanya di Bali, tetapi juga di berbagai destinasi unggulan lainnya. Kami percaya pengalaman belajar secara langsung serta jejaring yang terbangun melalui program ini akan membuka peluang lebih luas bagi pengembangan segmen perjalanan edukasi ke berbagai destinasi di Indonesia,” kata Ni Made Ayu.

Dalam kegiatan di Claremont College, Kemenpar memperkenalkan sejumlah aktivitas budaya kepada kepala sekolah, guru, dan siswa melalui berbagai lokakarya interaktif.

Baca juga:  Komisi V DPR RI Terkesan Inovasi Kades Hadian di Desa Wisata Cibiru Wetan Meski Anggaran Terbatas

Para peserta berkesempatan mempelajari teknik membatik bersama Desa Wisata Wukirsari. Mereka juga dikenalkan dengan tari tradisional melalui Desa Wisata Taro, memainkan angklung, serta membuat rangkaian kerajinan dari biji hanjeli.

Selain itu, peserta mengikuti sesi storytelling bersama Balai Bahasa dan Budaya Indonesia NSW. Dalam kegiatan tersebut, mereka diperkenalkan pada buku edukatif yang mengangkat hanjeli dari Desa Wisata Hanjeli.

Berbagai aktivitas itu dirancang untuk memberikan pengalaman lintas budaya sekaligus menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat dan kekayaan budaya Indonesia dapat menjadi bagian dari metode pembelajaran yang menarik bagi generasi muda.

Ni Made Ayu menilai perjalanan edukasi atau educational travel merupakan salah satu segmen pariwisata berkualitas yang memiliki potensi nilai tambah cukup besar.

Segmen tersebut dinilai dapat mendorong wisatawan tinggal lebih lama di suatu destinasi. Pada saat yang sama, perjalanan edukasi juga membuka peluang interaksi yang lebih erat antara wisatawan dengan masyarakat, kebudayaan lokal, serta lingkungan pendidikan di daerah tujuan.

Peluang itu semakin besar seiring tingginya mobilitas generasi muda di berbagai negara. WYSE Travel Confederation bersama UN Tourism memperkirakan sekitar 350 juta pemuda melakukan perjalanan pada 2025, dengan 23 persen di antaranya merupakan pelajar.

Australia sendiri menjadi salah satu pasar utama bagi industri pariwisata Indonesia. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia mencapai 1.754.791 kunjungan. Angka tersebut menempatkan Australia sebagai negara penyumbang wisatawan mancanegara terbesar kedua bagi Indonesia.

Baca juga:  Tiga Mahasiswa Ini Kembangkan Solusi Desa Wisata, Raih Penghargaan Bakti BCA

Pertumbuhan pasar Australia juga masih terlihat pada 2026. Hingga Juni, tercatat 864.750 kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia atau naik 6,29 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Industri perjalanan pemuda tetap memiliki potensi besar sebagai kekuatan positif. Selain memberikan dampak ekonomi, segmen ini dapat memperkuat pertukaran pengetahuan, membangun jejaring internasional, serta memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi pembelajaran yang berkualitas,” ujar Ni Made Ayu.

Setelah kegiatan di sekolah, Kemenpar melanjutkan promosi melalui EduTourism Networking Event yang digelar pada 4 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Indonesia Residence tersebut mempertemukan pelaku industri pariwisata Indonesia dengan mitra perjalanan dan pemangku kepentingan sektor pendidikan di New South Wales.

Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara II Kemenpar Yulia mengatakan agenda tersebut diisi dengan presentasi produk wisata edukasi, table-top meeting, networking, serta pertunjukan budaya.

Forum itu menjadi kesempatan bagi pelaku usaha pariwisata Indonesia atau sellers untuk bertemu secara langsung dengan buyers dari sektor perjalanan dan pendidikan di New South Wales. Pertemuan tersebut sekaligus diarahkan untuk menjajaki potensi perjalanan edukasi dari Australia ke Indonesia.

Sejumlah desa wisata turut diperkenalkan dalam forum tersebut. Desa Wisata Wukirsari di Yogyakarta, misalnya, menawarkan pengalaman belajar mengenai seni tradisional, kearifan lokal, serta kerajinan batik yang telah memiliki standar dunia.

Sementara itu, Desa Wisata Taro di Bali menawarkan pembelajaran yang berfokus pada lingkungan, keberlanjutan, serta upaya pelestarian budaya.

Baca juga:  Belitung Jadi Percontohan Integrasi Pokdarwis dengan Koperasi

“Melalui keterlibatan industri pariwisata dan desa wisata yang menawarkan produk wisata edukasi berkualitas, kami ingin memberikan lebih banyak pilihan bagi sekolah, universitas, dan pelaku industri wisata edukasi di Australia untuk membawa siswa belajar, mengeksplorasi, dan merasakan pengalaman Indonesia secara langsung,” kata Yulia.

Konsul Jenderal RI Sydney Pendekar Muda Leonards Sondakh menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas citra pariwisatanya di Australia. Indonesia, kata dia, tidak hanya dapat diposisikan sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai tempat yang menyediakan berbagai pengalaman pembelajaran.

Melalui program Indonesia Goes to School dan pengembangan wisata edukasi, generasi muda Australia dapat berinteraksi langsung dengan budaya, tradisi, keberagaman, serta kehidupan masyarakat Indonesia.

“Desa-desa wisata Indonesia dapat menjadi ruang belajar yang hidup, tempat para siswa belajar langsung dari masyarakat sekaligus melihat bagaimana budaya, kreativitas, keberlanjutan, dan ekonomi lokal saling terhubung. Melalui pengalaman yang bermakna ini, kami berharap dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, memperdalam pemahaman, serta memperkuat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Australia,” ujar Leonards.

Kolaborasi Kemenpar, KJRI Sydney, Garuda Indonesia, desa wisata, serta pelaku industri perjalanan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mengembangkan pasar pariwisata berkualitas melalui segmen wisata edukasi.

Selain berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan muda Australia, pengembangan EduTourism juga diharapkan memberikan dampak yang lebih luas kepada masyarakat di tingkat desa melalui aktivitas kebudayaan, ekonomi kreatif, serta pengalaman belajar yang bersumber dari kearifan lokal.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru