Desa Terkini, Makassar – Kebakaran lahan masih terjadi di sekitar perbatasan Bandara Sultan Hasanuddin (Sulhas) dengan Desa Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di tengah penanganan kebakaran, pemerintah desa (pemdes) juga menghadapi persoalan kekeringan dan keterbatasan air bersih yang dialami masyarakat.
Kepala Desa Tenrigangkae, Wahyu, mengatakan kebakaran terjadi di area persawahan yang kondisinya sedang kering. Ia menduga faktor cuaca dan kekeringan menjadi salah satu penyebab, meski penyebab pasti kebakaran masih perlu dipastikan.
“Karena ini kebakarannya itu sawah, dan kebakarannya itu awalnya di tengah-tengah. Kalau dipinggir mungkin kita bisa kira itu karena puntung rokok, tapi ini di tengah,” kata Wahyu.
Ia mengatakan kondisi kekeringan tidak hanya terjadi di Desa Tenrigangkae, tetapi juga melanda sejumlah wilayah lain di Kabupaten Maros. Dampaknya, masyarakat mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
“Saya kira ini karena cuaca dan kekeringan yang melanda desa, dan bukan cuma di Desa Tenrigangkae, di desa lain juga begitu di Maros terjadi kekeringan dan kekurangan air bersih,” ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, pemdes Tenrigangkae bersama BUMDes menyalurkan air bersih secara gratis. Air tersebut diambil dari sumur tua yang masih tersedia di wilayah desa.
“Kami salurkan air bersih menggunakan sumur tua di Desa Tenrigangkae, kami salurkan secara gratis kepada masyarakat desa,” kata Wahyu.
Distribusi air bersih juga mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros melalui BPBD. Pemkab memberikan satu unit mobil untuk membantu proses penyaluran air kepada masyarakat terdampak kekeringan.
“Alhamdulillah dari pemerintah kabupaten juga memberikan bantuan berupa satu buah mobil dari BPBD Maros, untuk penyaluran air bersih,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Wahyu meminta perhatian terhadap desa-desa yang berada di sekitar kawasan Bandara Sultan Hasanuddin. Ia menyinggung peran Angkasa Pura melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, khususnya bagi wilayah yang berada di sekitar bandara.
Menurut Wahyu, Desa Tenrigangkae merupakan salah satu desa yang berada dekat dengan kawasan bandara sehingga program CSR dapat diarahkan untuk membantu kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung upaya menghadapi persoalan lingkungan dan kebencanaan.
“Tolonglah anggota dewan yang pernah ke Maros, Dapil Maros, sentil juga Angkasa Pura. Perhatikan sekeliling mengenai karhutla,” kata Wahyu.
Ia berharap persoalan tersebut dapat dibahas bersama melalui sosialisasi dan koordinasi antara pemerintah desa, pemerintah daerah, legislatif serta pihak pengelola bandara.
“Kalau ada sosialisasi duduk bersama saya rasa akan lebih baik manfaatnya,” ujarnya.
Wahyu juga menilai program CSR Angkasa Pura semestinya turut memperhatikan wilayah yang masuk dalam ring 1 kawasan bandara.
“Mestinya Angkasa Pura juga CSR-nya itu di ring 1. Kan dekat dengan bandara, ini Desa Tenrigangkae,” katanya.
Sementara itu, pemerintah desa memperkirakan kondisi kekeringan masih dapat berlangsung hingga November 2026. Karena itu, distribusi air bersih kepada warga akan terus dilakukan selama kebutuhan masyarakat masih berlangsung.
Karhutla di sekitar perbatasan Bandara Sultan Hasanuddin dan Desa Tenrigangkae hingga kini masih ditangani petugas Damkarmat Maros. Adapun dugaan keterkaitan kondisi kekeringan dengan munculnya kebakaran masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya.
desaterkini.id telah berusaha menghubungi Branch Communication & CSR Department Head, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Citra Mahesa Nusantara. Namun, hingga berita ini terbit, ia belum membalas pesan yang dikirimkan ke nomor whatssapp pribadinya.
Reporter : Andi Alfath


