28 C
Makassar
Selasa, November 3, 2026

Fakultas Peternakan Unhas Olah 2,8 Ton Sampah Organik dengan Budidaya Maggot

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Makassar – Sebanyak 2,83 ton sampah organik dari aktivitas di lingkungan Universitas Hasanuddin (Unhas) telah dikelola melalui sistem pengolahan berbasis budidaya maggot.

Langkah tersebut dikembangkan Fakultas Peternakan (Fapet) Unhas untuk mengurangi sampah makanan sekaligus memanfaatkan kembali material organik menjadi sumber biomassa yang berpotensi digunakan sebagai pakan ternak.

Data Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Unhas yang dikelola PT Agro Farm Econesia (CycleValue) mencatat 2.830 kilogram sampah organik telah terkelola hingga 18 September 2026.

Sampah yang diangkut seluruhnya berupa sisa makanan dari aktivitas di lingkungan kampus. Pengangkutan pertama dilakukan pada 24 Agustus 2026 dan hingga 18 September 2026 telah berlangsung sebanyak 18 kali.

Dalam periode tersebut, volume sampah organik yang terserap mencapai rata-rata sekitar 134 kilogram per hari.

Baca juga:  Unhas Dorong Pala di Kampung Weri-Saharey Fakfak Jadi Briket dan Biochar

Sumber sampah terbesar berasal dari Unhas Hotel & Convention (UHC), dengan 1.710 kilogram atau 60,4 persen dari total volume. Berikutnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Unhas sebanyak 693 kilogram atau 24,5 persen dan Hadin F&B sebanyak 427 kilogram atau 15,1 persen.

Sampah organik tersebut kemudian dimanfaatkan dalam budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) yang dikembangkan Fapet Unhas.

Pada tahap awal, bahan organik yang telah dikumpulkan digunakan sebagai media pakan larva. Setelah berkembang, larva dipindahkan ke biopond untuk melanjutkan fase pembesaran.

Larva BSF mengonsumsi bahan organik dan menghasilkan biomassa yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif bagi ternak dan unggas. Dengan pola tersebut, sisa makanan tidak hanya diposisikan sebagai limbah, tetapi juga dimanfaatkan sebagai bagian dari sumber daya dalam bidang peternakan.

Baca juga:  Polisi, TNI, Jaksa hingga Chef Cilik Ramaikan Hari Pertama Sekolah di SIT Alif Cendekia Gowa

Koordinator Safeguard LCDI-ITF Dr. Ir. Zulkarnaim, S.Pt., M.Si., IPM., mengatakan budidaya maggot menjadi salah satu pendekatan biologis untuk mengoptimalkan pemanfaatan sampah organik.

“Pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot BSF memberikan pendekatan biologis dalam memanfaatkan sisa makanan. Bahan organik yang dikumpulkan dapat dimanfaatkan sebagai media pakan larva, sementara biomassa yang dihasilkan memiliki potensi untuk mendukung kebutuhan pakan dalam sektor peternakan,” ujar Zulkarnaim.

Program pengelolaan sampah tersebut didukung Low Carbon Development Initiative–Indonesia Transition Fund (LCDI-ITF), bersama sejumlah lembaga seperti Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Bappenas, UK International Development, Oxford Policy Management, dan Carbon Trust.

Selain mengurangi volume sampah organik yang harus dibuang, pencatatan berdasarkan sumber juga dapat digunakan untuk melihat pola timbulan sampah serta kebutuhan pengolahan di lingkungan kampus.

Baca juga:  Telkomsel Hadirkan Paket Sacred Octagon, Belajar Matematika Mulai Rp12.500

Pengembangan budidaya BSF juga diarahkan untuk mendukung pemanfaatan biomassa sebagai sumber pakan alternatif. Pendekatan tersebut membuat pengelolaan sampah organik terhubung dengan pengembangan sumber daya di bidang peternakan.

Program ini juga dikaitkan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 2 melalui pengembangan sumber pakan alternatif, SDG 12 melalui pemanfaatan kembali sampah organik, SDG 13 melalui penguatan pengelolaan sampah dalam kerangka pembangunan rendah karbon, serta SDG 15 melalui praktik pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Fapet Unhas selanjutnya mengembangkan sistem pengolahan berbasis BSF dengan memperhatikan volume bahan organik yang masuk, pemeliharaan larva hingga pemanfaatan biomassa yang dihasilkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Populer