28 C
Makassar
Selasa, November 3, 2026

MBG Kini Diuji Coba Secara Prasmanan, BGN Sebut Makanan Lebih Fresh

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan di kelas. Skema ini diterapkan agar makanan dapat disajikan dalam kondisi hangat dan dinilai lebih fresh bagi para siswa.

Uji coba tersebut mulai diterapkan pada Senin (5/10/2026) di 60 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta hingga Jayapura.

Kepala BGN Sudaryono menjelaskan, penerapan skema prasmanan agar makanan disajikan hangat, lebih fresh, dan mengurangi risiko kerusakan makanan.

“Per hari ini, dari tanggal 5 ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi, ya jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas kemudian disajikan di kelas, di ini kita lagi piloting, kami harapkan doa dan dukungannya, kita bisa lebih luas sehingga satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat, yang kedua tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu sehingga mengurangi risiko apa kerusakan makanan yang rusak kemudian menyebabkan gangguan kesehatan,” ujar Sudaryono di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (5/10/2026).

Baca juga:  161 Pelajar Tana Toraja Diduga Keracunan MBG, BBPOM Makassar Uji Sampel

Selain bertujuan mengurangi risiko keracunan makanan, Sudaryono menyebut sistem prasmanan tersebut juga memiliki fungsi edukasi bagi para siswa. Melalui mekanisme ini, siswa akan dilibatkan secara langsung dalam proses penyajian makanan dan tidak sepenuhnya bergantung pada petugas SPPG.

Menurutnya, para siswa nantinya akan dibagi ke dalam kelompok piket yang masing-masing terdiri dari 5-6 orang. Siswa yang mendapat giliran piket akan bertugas melayani teman-temannya saat waktu makan berlangsung.

Dalam pelaksanaannya, siswa kemungkinan akan dibekali celemek dan sarung tangan untuk membantu proses penyajian makanan. Sudaryono menyebut konsep tersebut serupa dengan sistem yang telah diterapkan di Jepang.

“Kemudian juga ada fungsi edukasinya. Tentu saja ini membutuhkan semacam kerja sama. Jadi kalau prasmanan ini, yang dilatih adalah dapurnya, yang dilatih juga adalah sekolahnya. Karena yang melayani adalah siswa. Jadi siswa itu ada piket kayak di Jepang gitu lah,” katanya.

Baca juga:  BGN Bakal Awasi Dapur MBG Pakai CCTV Berbasis AI

Sudaryono menegaskan bahwa makanan dalam program tersebut tetap dimasak di dapur SPPG. Setelah proses memasak selesai, makanan kemudian dikirim ke sekolah untuk disajikan dalam kondisi hangat.

“Ya kalau sekolahnya besar, siswanya banyak, ada yang dimasak di sekolah. Sama kayak di kita kan sama. SPPG ada di dalam pesantren misalnya, karena pesantrennya apa, santrinya lebih dari 1.000, dia bisa bikin dapur di dalam, sama aja sebetulnya,” katanya.

Lebih lanjut, Sudaryono mengatakan hasil sementara uji coba MBG dengan sistem prasmanan menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan laporan yang diterimanya, tingkat makanan yang dihabiskan oleh siswa dinilai cukup baik.

“Sejauh ini, tadi saya dapat laporan, itu tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi kan artinya, ya kan, lebih fresh, ya, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah gitu. Jadi, dan waste, waste-nya lebih sedikit ya karena prasmanan,” katanya.

Baca juga:  Luhut Usulkan Definisi Korupsi Dikaji Ulang, Singgung Kerugian Negara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Populer