33 C
Makassar
Kamis, September 17, 2026

Sopir Lokal Desa Wisata Tetebatu NTB Tolak Taksi Online Jemput Wisatawan

Wajib Dibaca

Desa Terkini, NTB – Komunitas sopir di kawasan Desa Wisata Tetebatu, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), tolak keberadaan taksi online menjemput wisatawan di wilayah tersebut.

Para sopir lokal menilai keberadaan taksi online merugikan mereka karena mengambil pasar jasa transportasi yang selama ini menjadi sumber pendapatan warga setempat.

Humas Himpunan Pengusaha dan Pekerja Jasa Wisata (HIPPJATA) kawasan Rinjani Selatan, Kusma Adnan, mengatakan penolakan tersebut dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada penyedia jasa transportasi lokal melayani wisatawan.

Menurutnya, sopir lokal telah tersedia di sejumlah destinasi wisata di kawasan tersebut.

“Kami tidak mengizinkan taksi online datang untuk menjemput tamu di wilayah kami, kecuali dropping. Biakan itu jatah sopir setempat,” kata pria yang akrab disapa Uncle Kus tersebut, Minggu 13 September 2026 dikutip dari detik

Baca juga:  Husniah Talenrang Nonaktifkan Sekda Gowa dan Dua Kepala OPD, Pejabat Lain Menyusul

Uncle Kus mengatakan kehadiran taksi online membuat sopir lokal kehilangan kesempatan mendapatkan penumpang. Ia khawatir para sopir yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas pariwisata justru hanya menjadi penonton di daerah sendiri.

“Itu kan dapur teman-teman driver lokal, jangan sampai hanya menjadi penonton di tengah geliat aktivitas wisata di wilayah sendiri. Itu sebagai dapur teman-teman yang ada di sini,” ujarnya.

Sopir Lokal dari Tujuh Desa Wisata

Saat ini terdapat sekitar 40 sopir yang tergabung dalam komunitas driver tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari Desa Tetebatu, tetapi juga dari sejumlah desa wisata di sekitarnya.

Komunitas itu mencakup sopir dari Desa Kembang Kuning, Desa Tetebatu Selatan, Desa Kotaraja, Desa Loyok, Desa Pringga Jurang, dan Desa Montong Gading.

Baca juga:  Kebakaran Hebat Melanda Desa Adat Sade, Gubernur NTB Siapkan Langkah Pemulihan

“Sudah lama teman-teman ini mangkalnya di Tetebatu, makanya mereka bergabung menjadi satu komunitas,” jelas Uncle Kus.

Keberadaan komunitas tersebut menunjukkan jasa transportasi lokal menjadi bagian dari ekosistem pariwisata di kawasan Rinjani Selatan.

Namun, persoalan tarif menjadi tantangan bagi sopir lokal untuk bersaing dengan taksi online.

Tarif Taksi Online Lebih Murah

Uncle Kus mengakui tarif taksi online cenderung lebih murah dibandingkan tarif yang ditawarkan sopir lokal. Kondisi itu membuat sebagian wisatawan memilih menggunakan layanan transportasi berbasis aplikasi.

“Sedang kami diskusikan solusi yang terbaik karena yang memesan ini tamu hotel karena tarifnya jauh lebih murah dibanding tarif lokal. Teman-teman harus ada yang siap mengantar tamunya dengan tarif taksi online, tetapi ini juga tentu merugikan karena harga yang tidak sesuai dengan jarak tempuh,” imbuh Uncle Kus.

Baca juga:  Karhutla TNBTS Meluas ke Jemplang, Bromo Ditutup dan Penyebab Api Diselidiki

Karena itu, komunitas sopir lokal masih membahas skema yang dianggap dapat menjaga keberlangsungan usaha mereka tanpa mengabaikan kebutuhan wisatawan terhadap transportasi dengan tarif yang terjangkau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru