34 C
Makassar
Selasa, November 3, 2026

Mendikdasmen Ungkap Faktor Murid Rentan Jadi Korban Bullying

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkap sejumlah faktor yang membuat seorang murid rentan menjadi korban perundungan atau bullying di lingkungan sekolah

Faktor tersebut meliputi kondisi fisik, kemampuan akademik, latar belakang ekonomi keluarga, hingga perilaku yang dianggap berbeda dari teman sebaya.

Fisik Berbeda dan Kemampuan Akademik di Bawah Rata-Rata

“Murid-murid yang memiliki fisik yang berbeda dari umumnya. Misalnya kalau dia fisiknya terlalu kecil, itu biasanya sering menjadi sasaran kekerasan. Atau terlalu jangkung, atau terlalu besar, dan dan faktor-faktor lain yang mengarah kepada fisik,” ujar Mu’ti dalam acara diskusi yang digelar Kosgoro di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Baca juga:  Luhut Usulkan Definisi Korupsi Dikaji Ulang, Singgung Kerugian Negara

Faktor kedua adalah kemampuan akademik yang berada di bawah rata-rata. Menurut Mu’ti, murid dengan kondisi fisik tertentu maupun kemampuan akademik tersebut termasuk dalam dua kategori anak berkebutuhan khusus yang rentan mengalami perundungan.

“Dan sebagian dari mereka berdua ini adalah, dua kategori ini adalah anak-anak yang berkebutuhan khusus,” ucapnya.

Murid dari Keluarga Kurang Mampu Rentan Jadi Korban

Selain kondisi fisik dan kemampuan akademik, latar belakang sosial dan ekonomi juga menjadi faktor yang meningkatkan kerentanan murid terhadap perundungan.

Anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu dinilai lebih berisiko menjadi sasaran kekerasan di sekolah.

“Murid-murid dari keluarga tidak mampu itu sangat rentan terhadap perundungan. Kasus di Pemalang yang terakhir misalnya, itu kan dari keluarga desil 1 korbannya,” ucapnya.

Baca juga:  Arborist Bongkar Persoalan Pohon Pedestrian Makassar: Akar Butuh Ruang Tumbuh

Perilaku yang Dianggap Berbeda Bisa Memicu Perundungan

Mu’ti juga menyebut murid yang menunjukkan perilaku berbeda dari kebanyakan teman sebayanya berpotensi menjadi korban perundungan.

Misalnya, murid yang kerap melaporkan masalah kepada guru atau menunjukkan perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan stereotip gender di lingkungan sosialnya.

“Misalnya yang suka yang suka misalnya mengadu ke gurunya, misalnya dikit-dikit mengadu ke guru, itu cenderung diburu. Atau misalnya mohon maaf yang secara perilaku, mohon maaf sekali mohon maaf sekali, misalnya agak melambai. Laki-laki yang seperti perempuan atau perempuan yang seperti laki-laki, itu cenderung menjadi korban dari perundungan,” ucapnya.

Guru hingga Kakak Kelas Disebut Terlibat dalam Kekerasan

Lebih lanjut, Mu’ti menjelaskan bahwa kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah umumnya melibatkan tiga pihak, yakni guru, kakak kelas atau senior, serta lawan jenis.

Baca juga:  Warga Gugat UU Perpajakan ke MK, Minta Pembalut Bebas PPN

“Sehingga kekerasan itu terjadi karena faktor power relation, relasi kuasa dari yang kuat kepada yang lemah,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Populer