28 C
Makassar
Selasa, November 3, 2026

Lihat Situs Prasejarah di Belae Pangkep, Mahasiswa KKN-T Unhas Bangun Branding Digital

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Pangkep — Destinasi wisata tidak selalu harus menawarkan panorama alam sebagai daya tarik utama. Di Geosite Belae, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, pesona justru tersimpan di balik kawasan karst dan gua-gua yang menyimpan jejak kehidupan manusia masa lalu.

Potensi tersebut mendorong mahasiswa KKN-T Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) mengembangkan branding digital Geosite Belae. Mereka tidak hanya memandang kawasan tersebut sebagai destinasi wisata, tetapi berupaya menemukan identitas yang mampu memperkenalkan kekayaan sejarah, arkeologi, geologi, dan edukasi yang dimilikinya.

Sekretaris Tim KKNT Desa Biraeng, Riyanti Rahmania Putri Damran, mengatakan posisi Geosite Belae menjadi modal penting dalam pengembangan kawasan karena memiliki keterkaitan dengan sejumlah kawasan konservasi dan geopark.

“Geosite ini bagian dari geopark Karst Maros Pangkep, bagiannya taman nasional Bantimurung Bulusaraung juga,” ujar Riyanti pada Senin 17 Agustus 2026.

Menurutnya, keterhubungan tersebut menunjukkan bahwa Geosite Belae merupakan bagian dari lanskap karst yang lebih luas dan memiliki karakter alam yang menjadi kekayaan penting Pangkep.

Namun, nilai kawasan tersebut tidak hanya terletak pada bentang alamnya. Sejumlah gua atau leang di kawasan Belae juga menyimpan jejak kehidupan manusia prasejarah.

Baca juga:  Hadapi Era AI, Munafri Arifuddin Ingatkan Guru Tak Terpaku Metode Konvensional

“Jadi disitu banyak leang-leang yang dalamnya ada jejak prasejarah, kayak kemarin dari Leang Sakapao banyak jejak tangan manusia purba sama gambar babi rusa,” lanjutnya.

Jejak tangan dan gambar babi rusa menjadi bagian dari cerita panjang mengenai keberadaan manusia pada masa lampau. Gua-gua tersebut bukan sekadar ruang yang terbentuk di antara bentang karst, tetapi menjadi rekaman perjalanan kehidupan manusia yang masih dapat ditelusuri hingga saat ini.

Kawasan Geosite Belae bahkan memiliki 27 titik situs prasejarah. Jumlah tersebut menjadi salah satu kekuatan utama yang ingin diangkat mahasiswa KKN-T Unhas dalam membangun identitas digital kawasan.

Bagi mahasiswa, promosi melalui media sosial tidak cukup hanya menampilkan foto panorama. Narasi mengenai apa yang berada di balik lanskap Belae dinilai justru dapat menjadi daya tarik yang membedakannya dari destinasi wisata lainnya.

Cerita tentang situs prasejarah, jejak tangan manusia purba, gambar babi rusa hingga karakter batuan karst dapat dikemas menjadi konten edukatif sekaligus menarik bagi masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, ketika nama Belae disebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mengingatnya sebagai salah satu kawasan wisata di Pangkep, tetapi juga sebagai kawasan karst yang menyimpan jejak perjalanan manusia sejak masa prasejarah.

Baca juga:  Komitmen ESG, Kalla Translog Hijaukan Pesisir Pangkep dengan Tanam 31 Ribu Mangrove

“Lokasi ini biasa juga jadi tempat penelitiannya mahasiswa arkeologi, ada juga paling ujung itu kalibbong aloa, isinya stalagmit stalaktit begitu,” jelas mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas tersebut.

Keberadaan Kalibbong Aloa turut memperkaya potensi edukasi Geosite Belae. Formasi stalagmit dan stalaktit dapat menjadi materi pengenalan mengenai proses terbentuknya bentang alam karst.

Sementara itu, situs-situs arkeologi dapat dikemas melalui konten sejarah yang mengajak masyarakat mengenal kehidupan manusia pada masa lampau.

Mahasiswa KKN-T Unhas kemudian mengembangkan informasi tersebut melalui akun Instagram @geosite.belae. Akun tersebut diarahkan bukan hanya sebagai ruang dokumentasi, tetapi sebagai media untuk memperkenalkan Geosite Belae dengan identitas yang lebih kuat dan terarah.

Berbagai potensi yang dimiliki Belae dapat dirangkai menjadi satu narasi. Bentang karst menjadi identitas alam, leang menjadi pintu menuju sejarah, situs prasejarah menjadi bukti perjalanan manusia, sementara Kalibbong Aloa memperlihatkan kekayaan geologi.

Di sisi lain, aktivitas penelitian mahasiswa arkeologi menunjukkan bahwa kawasan tersebut juga memiliki nilai akademik yang kuat.

Seluruh elemen itu kemudian diposisikan sebagai satu kesatuan identitas, yakni Belae sebagai ruang pertemuan antara alam, sejarah, dan pengetahuan.

Baca juga:  Kalla Institute Perkuat Daya Saing Industri Sambusa di Pangkep Melalui Transformasi Digital

Namun, semakin dikenal sebuah kawasan, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga keberadaannya. Promosi wisata dinilai harus berjalan beriringan dengan kesadaran mengenai pentingnya pelestarian.

Riyanti berharap Geosite Belae dapat memperoleh ruang promosi yang lebih luas sehingga masyarakat semakin mengenal potensi yang tersimpan di kawasan tersebut.

Menurutnya, pengenalan terhadap Belae harus disertai pemahaman bahwa situs prasejarah, bentang karst, dan gua-gua di kawasan tersebut memiliki nilai yang jauh melampaui kepentingan pariwisata.

Situs-situs tersebut menyimpan cerita kehidupan manusia yang telah bertahan selama ribuan tahun. Karena itu, peningkatan popularitas kawasan juga harus diikuti dengan upaya menjaga nilai sejarah, ekologis, dan edukatifnya.

Pada akhirnya, branding Geosite Belae yang dilakukan mahasiswa KKN-T Unhas bukan sekadar membangun sebuah akun media sosial. Lebih dari itu, mereka mencoba menerjemahkan kekayaan kawasan menjadi cerita yang dapat dipahami dan dikenal masyarakat melalui ruang digital.

Upaya tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkenalkan Belae secara lebih luas, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa kawasan tersebut bukan hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga menyimpan salah satu potongan penting perjalanan manusia di masa lalu.

Citizen Reporter

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Populer