Desa Terkini, Jakarta – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mulai membidik pasar sekolah untuk memperluas pengembangan desa wisata. Destinasi di desa tidak lagi hanya dipromosikan sebagai tempat rekreasi, tetapi diarahkan menjadi ruang belajar atau edutrip langsung bagi siswa sekaligus membuka perputaran ekonomi bagi masyarakat lokal.
Strategi tersebut ditunjukkan Kemenpar melalui ajang 9th Annual Convention SPK Indonesia 2026 yang berlangsung pada 30 September–2 Oktober 2026 di SIS North East Jakarta (SIS NEJ).
Dalam ajang yang mempertemukan para pengelola sekolah tersebut, Kemenpar menghadirkan enam desa wisata sebagai contoh destinasi yang dapat dikembangkan untuk program wisata edukasi atau edutrip.
Enam desa wisata tersebut yakni Desa Wisata Kreatif Terong di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung; Desa Wisata Krebet di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta; Desa Wisata Les dan Desa Wisata Sudaji di Buleleng, Bali; Desa Wisata Bugisan di Klaten, Jawa Tengah; serta Desa Wisata Selamanik di Ciamis, Jawa Barat.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan desa wisata memiliki potensi untuk menjadi laboratorium pembelajaran di luar kelas.
“Indonesia memiliki potensi desa wisata yang sangat kaya dan siap menjadi laboratorium belajar di luar kelas bagi para siswa. Melalui partisipasi dalam 9th Annual Convention SPK Indonesia 2026, kami memperkenalkan desa wisata sebagai destinasi wisata edukasi unggulan yang berbasis pada kearifan lokal dan kelestarian lingkungan,” ujar Made dalam keterangannya, Rabu 7 Oktober 2026.
Menurut Made, konsep wisata edukasi memungkinkan siswa mempelajari budaya, alam, lingkungan, hingga aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat secara langsung.
Karena itu, Kemenpar mendorong pengelola desa wisata menyiapkan paket pembelajaran yang dapat dikaitkan dengan kebutuhan kurikulum sekolah.
Materi pembelajaran dapat mencakup sains, kebudayaan, ilmu sosial, ekologi hingga kewirausahaan. Dengan pendekatan tersebut, kunjungan siswa tidak berhenti sebagai perjalanan wisata, tetapi menjadi pengalaman experiential education.
“Melalui promosi dan pemasaran langsung kepada para pengambil keputusan di sekolah, kami berharap tercipta keterhubungan antara kebutuhan kurikulum sekolah dan produk wisata edukasi yang ditawarkan desa wisata,” katanya.
Pasar ini dinilai cukup besar. Saat ini lebih dari 460 sekolah di Indonesia tercatat dalam Perkumpulan Sekolah SPK Indonesia.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi desa wisata untuk membangun kerja sama langsung dengan institusi pendidikan, termasuk melalui paket kunjungan rombongan sekolah.
Namun, Kemenpar tidak hanya mendorong desa wisata memperkuat produk pembelajaran. Kesiapan destinasi juga menjadi perhatian, terutama terkait keselamatan peserta.
Pengelola didorong memenuhi prosedur keselamatan, manajemen risiko dan kesiapsiagaan yang sesuai dengan karakteristik kunjungan pelajar.
Dari sisi bisnis, Kemenpar juga mendorong desa wisata menyiapkan skema transaksi yang lebih mudah bagi sekolah. Salah satunya melalui harga khusus rombongan atau B2B price/group package serta pilihan pembayaran nontunai.
“Promosi wisata edukasi dan pemenuhan kualifikasi destinasi merupakan dua pilar utama dalam pengembangan wisata edukasi di desa wisata. Dengan demikian, desa wisata dapat menjadi mitra pembelajaran yang terpercaya bagi institusi pendidikan,” ujar Made.
Selain pameran, perwakilan enam desa wisata juga menjadi panelis dalam diskusi “Talkshow Desa Wisata”. Mereka memaparkan potensi masing-masing desa, peluang pembelajaran bagi siswa, hingga kesiapan fasilitas dan standar keselamatan.
Kemenpar berharap pengembangan segmen wisata edukasi dapat memperluas manfaat pariwisata hingga ke tingkat desa. Kunjungan pelajar diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman belajar, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi yang manfaatnya dirasakan langsung masyarakat lokal.
Kekayaan budaya, alam, pengetahuan lokal serta aktivitas keseharian masyarakat kemudian dikemas menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa.
Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung kampanye Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) dan mendorong pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara dari segmen pelajar.
Reporter : Bayu


