33 C
Makassar
Rabu, November 4, 2026

Eks Mendag Bongkar Dugaan Tekanan ke MSCI, GIC Singapura Ikut Disebut

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Jakarta – Mantan Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi menyoroti rencana penyedia indeks global MSCI yang membuka konsultasi terkait kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Menurutnya, rencana tersebut perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia.

Lutfi menilai, persoalan ini bukan sekadar menyangkut klasifikasi pasar global, tetapi juga kepentingan ekonomi dan penguasaan aset strategis nasional.

Status Standalone Market, menurutnya, berkaitan dengan keterbatasan akses investor internasional, termasuk dalam hal pergerakan modal.

Ia juga menduga terdapat tekanan dari institusi investasi asal Singapura, termasuk Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC), terhadap MSCI.

Lutfi bahkan menyebut Rachel Goh dari GIC sebagai pihak yang diduga mendorong penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia.

Baca juga:  BSU Kuartal IV 2026: 13,3 Juta Pekerja Bakal Terima Rp900 Ribu

“Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan. Come on, Rachel, don’t you know walls in Jakarta do talk and scream?,” ujarnya melalui sosial media Instagram, Selasa (20/10/2026).

Meski demikian, tudingan mengenai adanya tekanan tersebut belum disertai bukti independen yang dapat diverifikasi.

Dugaan keterlibatan institusi investasi Singapura pun masih memerlukan konfirmasi dari pihak terkait.

Lutfi juga menyoroti persoalan internal pasar modal Indonesia, termasuk transparansi kepemilikan saham dan perilaku sejumlah emiten.

Namun, ia menduga persoalan tersebut turut berkaitan dengan kepentingan tertentu.

“Alasannya dipakai karena ulah segelintir emiten konglomerat kita sendiri,” ucapnya.

Baca juga:  Mayoritas dari Indonesia Timur, 25 Kepala Daerah Akan “Belajar” Pelayanan Publik di Singapura

Terkait arus keluar modal asing, Lutfi menilai kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan pelemahan fundamental pasar modal domestik.

Menurutnya, investor asing yang telah menjual saham akan kesulitan kembali masuk pada harga lebih rendah apabila harga saham tidak terkoreksi signifikan.

“Dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80% dari pasar Indonesia. Masalahnya, waktu mereka keluar, bursa kita tidak hancur. Karena harganya tidak turun, mereka tidak bisa masuk lagi buat beli murah,” ucapnya.

Ia kemudian menduga ancaman penurunan klasifikasi MSCI dapat memicu kepanikan investor dan menekan harga saham, sehingga membuka peluang pembelian kembali aset-aset unggulan Indonesia dengan harga lebih murah.

“Mereka tekan MSCI untuk mengancam turunkan kasta Indonesia ke standalone market, bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok, lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon,” ungkapnya.

Baca juga:  Luncurkan B50, Prabowo Tegaskan Kemandirian Energi Penentu Kedaulatan Bangsa

Namun, dugaan bahwa ancaman perubahan klasifikasi sengaja digunakan untuk menjatuhkan harga saham belum memiliki bukti terverifikasi.

Evaluasi MSCI perlu ditinjau berdasarkan metodologi indeks, konsultasi dengan pelaku pasar, serta penilaian terhadap aksesibilitas dan investabilitas pasar saham Indonesia.

Lutfi mengimbau masyarakat agar tetap bersatu dalam menyikapi dinamika tersebut. Ia menegaskan pentingnya menjaga kepentingan nasional di tengah tekanan terhadap pasar modal domestik.

“Ini soal siapa memegang kendali atas kekayaan Indonesia. Kita harus kompak, kita harus patriotik, kita jaga harga diri bangsa kita sendiri,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Populer