23.8 C
Makassar
Senin, Agustus 3, 2026

BRIN Tawarkan Konsep Desa Inovasi, Pembangunan Tak Lagi Bertumpu pada Infrastruktur

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Jakarta – Pembangunan desa dinilai tidak lagi cukup hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik maupun penyaluran berbagai program bantuan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan pendekatan Desa Inovasi yang mengedepankan penguatan sumber daya manusia, tata kelola, ekonomi, lingkungan, dan budaya sebagai fondasi mewujudkan desa yang maju, mandiri, inklusif, serta berkelanjutan.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Siti Zuhro, menjelaskan Desa Inovasi merupakan model pembangunan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, pembangunan desa harus dilakukan secara menyeluruh agar mampu menjawab berbagai tantangan sekaligus mengoptimalkan potensi lokal yang dimiliki setiap daerah.

“Desa tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran pembangunan, melainkan sebagai pusat pertumbuhan baru Indonesia. Membangun desa sama dengan membangun Indonesia,” ujarnya dalam paparan Implementasi Lima Pilar Desa Inovasi pada kegiatan BRIN Goes to Villages di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis 4 Juni 2026.

Siti menegaskan, keberhasilan pembangunan desa tidak semata-mata diukur dari banyaknya pembangunan fisik yang dilakukan. Aspek yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu berkembang, berinovasi, serta menciptakan nilai tambah dari berbagai potensi yang dimiliki.

Baca juga:  Atasi Blind Spot, Pemkab Lutim dan Indosat Perluas Jaringan Internet

“Pembangunan fisik tentu penting, tetapi pembangunan manusianya jauh lebih penting. Yang ingin kita dorong adalah inovasi, kreativitas, dan kemandirian masyarakat,” katanya.

Dalam implementasinya, BRIN mengembangkan konsep Desa Inovasi melalui lima pilar yang saling terintegrasi.

Pilar pertama berfokus pada pembangunan masyarakat yang cerdas dan inovatif melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Pilar kedua diarahkan pada penguatan ekonomi desa agar mampu menghasilkan nilai tambah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selanjutnya, pilar ketiga menitikberatkan pada penguatan tata kelola pemerintahan desa yang adaptif, profesional, dan inovatif. Pilar keempat menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian penting dari pembangunan berkelanjutan. Adapun pilar kelima menekankan pentingnya menjaga budaya serta kearifan lokal sebagai identitas sekaligus modal sosial masyarakat desa.

Menurut Siti, aspek budaya tidak boleh dipisahkan dari proses pembangunan karena nilai-nilai lokal, tradisi, dan warisan budaya masih menjadi fondasi kehidupan masyarakat di berbagai desa.

Baca juga:  Kopdes Merah Putih Mulai Bayar Cicilan Pinjaman Rp3 Miliar pada September 2026

Karena itu, konsep Desa Inovasi juga mengusung pendekatan local heritage untuk menjaga sekaligus mengembangkan nilai-nilai luhur yang tumbuh di masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai mampu memperkuat identitas desa sekaligus menjadi modal dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal.

Ia juga menekankan bahwa keberhasilan Desa Inovasi tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, BRIN, organisasi masyarakat sipil, media, hingga dunia usaha perlu berkolaborasi membangun ekosistem inovasi di tingkat desa.

“Tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendiri. Desa Inovasi dibangun melalui kolaborasi yang memungkinkan terjadinya percepatan pembangunan dan lahirnya masyarakat yang cerdas, produktif, serta inovatif,” ujarnya.

Meski demikian, pengembangan Desa Inovasi sebagai platform nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah perbedaan kapasitas antardesa, baik dari sisi kualitas sumber daya manusia maupun tingkat literasi digital.

Perbedaan tersebut membuat kesiapan setiap desa dalam mengadopsi inovasi tidak sama sehingga diperlukan strategi pendampingan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Baca juga:  Ground Breaking Jalan Rantepao-Baruppu Torut Jadi Langkah Perkuat Mobilitas dan Distribusi Hasil Pertanian

Selain itu, keberhasilan implementasi Desa Inovasi juga membutuhkan sinergi antarpemangku kepentingan, peningkatan kapasitas masyarakat desa, serta dukungan kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.

Siti menilai pendekatan lima pilar tersebut dapat menjadi fondasi pembangunan desa sekaligus mendukung agenda nasional membangun Indonesia dari desa.

Ia optimistis Desa Inovasi dapat menjadi pengubah arah pembangunan nasional melalui penguatan masyarakat, ekonomi, tata kelola pemerintahan, lingkungan, dan budaya secara bersamaan sehingga desa mampu tumbuh sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkontribusi terhadap pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

“Desa Inovasi layak menjadi platform nasional. Pertama, karena sejalan dengan arah transformasi ekonomi Indonesia yang berbasis sumber daya dan inovasi. Kedua, karena desa dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru. Ketiga, karena konsep ini dapat menjadi solusi terhadap berbagai persoalan struktural, seperti urbanisasi yang berlebihan dan kesenjangan antara desa dan kota,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru