Desa Terkini, Maros – PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) Bandara Internasional Sultan Hasanuddin (Sulhas) memperkuat komitmen terhadap pelestarian lingkungan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, melalui program penanaman puluhan ribu bibit mangrove.
Dalam rangkaian program tersebut, Kantor Region V PT Angkasa Pura Indonesia melalui program InJourney Green menanam 10.000 bibit mangrove di kawasan pesisir Maros. Sementara itu, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin turut memberikan dukungan melalui program InJourney Airports Alam Lestari dengan total 60.000 bibit mangrove.
Selain penanaman mangrove, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin juga menyalurkan bantuan sarana dan prasarana melalui program InJourney Airports Peduli Fasilitas untuk mendukung pengembangan ekowisata di Desa Ampekale, Kabupaten Maros.
Regional CEO PT Angkasa Pura Indonesia Region V, Handy Heryudhitiawan, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong keberlanjutan melalui pengelolaan lingkungan yang memberikan manfaat jangka panjang.
“Melalui InJourney Green, kami tidak hanya berbicara mengenai penanaman pohon, tetapi bagaimana sebuah kawasan dapat tumbuh menjadi ekosistem yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Kawasan sekitar 10 hektare ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara bertahap, dengan sekitar 5 hektare yang saat ini telah mulai ditanami mangrove,” ujar Regional CEO V.
Penanaman mangrove dinilai tidak hanya berfungsi menjaga kawasan pesisir dari ancaman abrasi, tetapi juga mendukung habitat berbagai biota serta meningkatkan kualitas lingkungan.
Pengelolaan kawasan tersebut juga berkaitan dengan aspek keselamatan penerbangan, khususnya dalam mengantisipasi potensi bahaya satwa atau wildlife hazard di sekitar kawasan operasional Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Melalui pengelolaan lingkungan yang terencana dan berkelanjutan, keberadaan habitat serta populasi satwa di sekitar kawasan bandara diharapkan tetap berada dalam kondisi yang terkelola sehingga tidak menimbulkan potensi gangguan terhadap operasional penerbangan.
General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, mengatakan pengembangan kawasan mangrove membutuhkan konsistensi dan kolaborasi berbagai pihak agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Kami berharap kawasan ini nantinya tidak hanya menjadi ruang hijau yang berfungsi menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga dapat mendukung pengembangan ekowisata Kabupaten Maros. Kolaborasi antara perusahaan, pemerintah daerah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan menjadi kunci agar upaya pelestarian lingkungan ini dapat memberikan dampak yang berkelanjutan,” tambahnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Maros, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Maros, Direktur Eksekutif Institusi Penelitian dan Pengembangan Masyarakat, Camat Bontoa Kabupaten Maros, serta karyawan dan karyawati PT Angkasa Pura Indonesia Region V dan Kantor Cabang Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Ke depan, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin akan terus mendorong berbagai inisiatif yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan keberlanjutan dengan tetap memperhatikan keselamatan penerbangan.
Pengembangan kawasan mangrove dan ekowisata tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga membuka potensi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat Kabupaten Maros secara berkelanjutan.


