29.3 C
Makassar
Senin, Agustus 3, 2026

Pulau Kapoposang Jadi Rumah Tiga Spesies Penyu Langka, Ribuan Tukik Dilepas Setiap Tahun

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Pangkep – Pulau Kapoposang di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, menjadi salah satu kawasan penting bagi upaya pelestarian penyu di Indonesia.

Kawasan ini termasuk dalam 44 lokasi konservasi penyu yang mendukung implementasi Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu.

Di pulau yang dapat ditempuh sekitar lima hingga enam jam perjalanan laut dari Makassar tersebut, sedikitnya terdapat tiga spesies penyu yang rutin ditemukan, yakni penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Ketiga spesies itu merupakan satwa yang dilindungi karena populasinya terus mengalami tekanan.

Koordinator Balai Pengelolaan Kelautan Denpasar Satuan Pelayanan (Satpel) Pangkep/Wilayah Kerja Taman Wisata Perairan (TWP) Kepulauan Kapoposang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ilham, mengatakan Pulau Kapoposang memiliki peran strategis sebagai habitat peneluran penyu.

“Dari enam spesies penyu yang ada di Indonesia, tiga di antaranya bertelur di sini, dan semua spesies tersebut dilindungi,” kata Ilham saat dihubungi awak media, Minggu 2 Agustus 2026.

Baca juga:  Dari Kandang Bebek Menjadi Rumah Koran, Kisah Desa Kanreapia Bangun Pertanian Lewat Literasi

Menurutnya, setiap musim reproduksi pihaknya mampu melepas sekitar 5.000 hingga 6.000 tukik ke laut.

Namun, tingkat kelangsungan hidup penyu masih sangat rendah karena berbagai ancaman alami di laut.

“Begitu tukik dilepaskan ke laut, mereka langsung masuk ke dalam rantai makanan dan aliran energi ekosistem. Banyak yang dimangsa oleh ikan besar, burung, dan predator lainnya. Akhirnya, hanya sebagian kecil yang berhasil tumbuh dewasa dan kembali lagi ke daratan,” jelasnya.

Ancaman terhadap populasi penyu tidak hanya berasal dari predator alami.

Kerusakan habitat pantai, pengambilan telur, perburuan penyu dewasa, penangkapan sampingan (bycatch), perdagangan ilegal, hingga pencemaran laut akibat sampah plastik turut mempercepat penurunan populasi satwa tersebut.

Ilham menjelaskan, sejak 2009 KKP mulai melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi praktik pengambilan telur penyu.

Pada periode 2009 hingga 2020, aktivitas peneluran penyu di Kapoposang sempat menurun karena tingginya gangguan terhadap habitat dan masih maraknya konsumsi telur penyu oleh masyarakat.

Baca juga:  Asesor UNESCO Beri Sinyal Positif Usai Revalidasi Geopark Maros-Pangkep

Selain itu, pihaknya juga masih menemukan praktik penangkapan penyu oleh nelayan dari luar kawasan.

“Masih marak nelayan dari luar kawasan yang menangkap penyu induk menggunakan jaring. Sebagai contoh, pada kasus tahun 2020, kami mengamankan kasus dari Kepulauan Tanakeke di mana ada nelayan yang membantai 15 ekor penyu hijau, yang kemudian diproses hukum oleh Polda,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pendekatan kepada masyarakat mulai menunjukkan hasil sejak 2020 melalui sosialisasi dan program pemberdayaan.

Kelompok masyarakat yang sebelumnya dikenal sebagai pengambil telur penyu kini justru terlibat aktif dalam kegiatan konservasi.

“Karena merasa tidak aman, penyu enggan naik bertelur. Barulah pada tahun 2020, kami secara masif melakukan sosialisasi, pendekatan sosial, dan program pemberdayaan masyarakat. Kelompok masyarakat lokal yang sekarang terlibat aktif dalam pelestarian penyu sebenarnya adalah orang-orang yang dulunya gemar mengonsumsi telur penyu,” katanya.

Baca juga:  Mengenal Kampung Redam, Dorong Desa Sadar HAM dan Cegah Konflik Sosial yang Akan Dibentuk di Sulsel

Pulau Kapoposang yang berada di Desa Mattiro Ujung, Kecamatan Liukang Tupabbiring, juga merupakan bagian dari kawasan UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep.

Ilham berharap status tersebut dapat meningkatkan perhatian dunia terhadap upaya konservasi yang dilakukan di pulau tersebut.

“Harapan kami, kawasan konservasi di Pulau Kapoposang bisa lebih dikenal luas hingga ke mancanegara. Dengan semakin dikenalnya kawasan ini secara global, tentu saja akan meningkatkan jumlah kunjungan baik itu kunjungan wisata, penelitian, maupun pendidikan untuk datang ke Kapoposang. Dari kunjungan-kunjungan inilah nantinya bisa menghidupi kelompok-kelompok masyarakat lokal,” ujarnya.

Pada proses revalidasi UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep beberapa waktu lalu, dua asesor internasional dari Korea Selatan dan Tiongkok turut mengikuti pelepasliaran sekitar 100 ekor tukik hasil relokasi telur penyu.

Telur-telur tersebut sebelumnya dipindahkan dari sarang alami ke lokasi penetasan semi-alami untuk meningkatkan peluang keberhasilan menetas.

Reporter : Andi Alfath

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru