28 C
Makassar
Selasa, November 3, 2026

Gempa NTT Berdampak ke Selayar, 13 Rumah Rusak dan 3 Perahu Hancur, Ratusan Mengungsi

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Makassar – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu 15 Agustus 2026 turut berdampak hingga Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebanyak 13 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat tsunami kecil sekitar 0,5 M yang masuk ke kawasan permukiman.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Selayar, Muhammad Ikbal, mengatakan guncangan gempa dirasakan di lima kecamatan yang berada di wilayah kepulauan Selayar.

Namun, dampak paling signifikan terjadi di Kecamatan Pasimarannu dan Pasilambena karena kedua wilayah tersebut berada lebih dekat dengan lokasi episenter gempa.

“Dampak dari gempa di NTT dengan berkekuatan 7,7 itu berdampak di Kabupaten Selayar terutama di 5 kecamatan wilayah kepulauan. Namun yang lebih dekat dari titik tersebut ada dua kecamatan yaitu Kecamatan Pasimarannu dan Kecamatan Pasilambena,” ujar Ikbal kepada awak media Minggu 16 Agustus 2026.

Dampak gempa diperparah dengan masuknya air laut ke kawasan permukiman. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah rumah warga terendam dan mengalami kerusakan.

Baca juga:  AHM Perkuat Faskes Pascagempa NTT, Empat Posyandu yang Layani 7.200 Warga Desa Dibenahi

Ikbal merinci, terdapat sembilan rumah yang mengalami kerusakan ringan dan empat rumah lainnya rusak sedang. Sembilan rumah yang terdampak tersebut berada di Kecamatan Pasilambena dan sebagian terendam lumpur.

“Jadi kemarin itu akibat gempa tersebut ada hampasan air dari air laut itu masuk ke pemukiman warga dan ada juga 9 rumah yang rusak ringan, dan 4 rumah yang rusak sedang. Itu 9 unit yang terendam lumpur di kecamatan pasilambena. Tapi tidak ada yang ambruk masih kondisi aman,” katanya.

Selain rumah warga, empat unit perahu juga ikut terbawa air laut hingga masuk ke daratan. Dari jumlah tersebut, tiga perahu mengalami kerusakan.

“Termasuk juga ada beberapa perahu warga yang rusak dan terbawa naik ke daratan. Ada 4 buah perahu yang terbawa, 3 yang rusak di kecamatan pasilambena,” jelasnya.

Hingga Minggu, BPBD Selayar memastikan belum ada laporan korban jiwa akibat gempa tersebut. Kerusakan terhadap fasilitas umum maupun infrastruktur juga belum dilaporkan secara signifikan.

Baca juga:  Gempa Bumi NTT: 54 Orang Meninggal, BNPB Kebut Perbaikan

“Belum ada informasi soal kerusakan fasilitas umum dan infrastruktur lainnya. Alhamdulillah warga sampai update laporan terakhir tidak ada warga yang korban,” ungkap Ikbal.

Meski BMKG telah mengakhiri peringatan tsunami pascagempa NTT, aktivitas warga di sejumlah wilayah kepulauan Selayar belum sepenuhnya kembali normal.

Warga di Kecamatan Pasimarannu dan Pasilambena sempat memilih bertahan di lokasi pengungsian karena khawatir terjadi gempa susulan maupun gelombang laut.

Sementara tiga kecamatan lainnya, yakni Pasimasunggu, Pasimasunggu Timur, dan Takabonerate, telah kembali menjalankan aktivitas seperti biasa meski warga tetap diminta waspada.

“Kalau 3 kecamatan tadi aktivitas sudah normal hanya mereka tetap waspada. Tiga kecamatan itu Pasimasunggu, Pasimasunggu Timur dan Takabonerate. Namun untuk dua kecamatan ini sampai tadi malam bahkan pagi tadi masih ada di pengungsian. Memang dua kecamatan ini paling terdampak karena dekat dengan titik gempa,” tuturnya.

Ikbal menyebut keputusan warga untuk tetap mengungsi juga dipengaruhi trauma akibat bencana gempa yang pernah terjadi pada 2021. Sebagian warga memilih berada di lokasi yang lebih tinggi menggunakan tenda pengungsian maupun menempati rumah kebun.

Baca juga:  Peduli Gempa NTT, UIM Al-Gazali Salurkan Santunan di Momentum Wisuda 600 Mahasiswa

“Dan warga juga trauma dengan kejadian terakhir di 2021 itu jadi mereka mengungsi, jadi warga di dua kecamatan ini masih memilih berada di lokasi pengungsian. Titik pengungsian itu berada di ketinggian dengan menggunakan tenda-tenda, kemudian ada juga beberapa rumah kebun warga,” ujarnya.

Kondisi di Kecamatan Pasilambena kini berangsur normal. Berdasarkan koordinasi BPBD dengan pemerintah kecamatan, warga yang sebelumnya mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.

“Berdasarkan koordinasi kami dengan pak Camat, kondisi terkini para pengungsi di kecamatan Pasilambena sudah kembali dari titik-titik pengungsian ke rumah masing-masing dan beraktivitas kembali dengan normal,” bebernya.

Namun, kondisi berbeda masih terjadi di Kecamatan Pasimarannu. Hingga Minggu, sekitar 278 kepala keluarga (KK) masih bertahan di lokasi pengungsian.

“Namun di kecamatan Pasimarannu masih ada sekitar 20% memilih bertahan di lokasi pengungsian sampai saat ini. 278 KK yang mengungsi,” pungkasnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Populer