35 C
Makassar
Kamis, September 17, 2026

Dari Kandang hingga Kolam, Kisah 4 Pemuda Membangun Ekonomi Desa di Sidrap

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Sidrap – Desa tidak selalu identik dengan keterbatasan. Di Desa Lagading, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), empat pemuda justru melihat desa sebagai ruang untuk tumbuh, berkarya, sekaligus membangun sumber penghasilan.

Mereka adalah Herianto, Angga Resky, Paddy, dan Suparman. Keempatnya memilih jalur usaha yang berbeda, mulai dari peternakan puyuh, pengembangan ternak sapi dan kerbau, jasa mekanisasi pertanian, hingga budidaya ikan air tawar.

Pilihan tersebut berangkat dari cara pandang yang sama: potensi di sekitar desa bukan sekadar sesuatu yang tersedia, tetapi dapat diolah menjadi aset ekonomi.

Mengubah Potensi Menjadi Peluang

Herianto melihat peluang dari peternakan puyuh. Kandang yang ia kelola menjadi ruang produksi telur yang memiliki nilai jual sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi secara berkelanjutan.

Bagi Herianto, beternak bukan sekadar memelihara hewan. Ada proses pengelolaan, perawatan, produksi, hingga pemasaran yang membuat usaha tersebut dapat terus berkembang.

Baca juga:  Dulu Habiskan Rp35 Juta, Kini Cuma Rp14 Juta, Petani Enrekang Rasakan Manfaat Electrifying Agriculture

Sementara itu, Angga Resky memilih menekuni peternakan sapi dan kerbau. Ia memandang ternak sebagai aset produktif yang dapat dikembangkan dalam jangka panjang.

Dengan pengelolaan yang baik, hewan ternak tidak hanya menjadi sumber penghasilan ketika dijual, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi keluarga dan usaha yang terus bertumbuh.

Berbeda dengan keduanya, Paddy melihat peluang dari perkembangan teknologi di sektor pertanian.

Kemampuan mengoperasikan alat dan mesin pertanian (alsintan) ia manfaatkan untuk membantu pekerjaan petani. Mekanisasi membuat sejumlah pekerjaan pertanian dapat dilakukan lebih efektif, sekaligus membuka peluang bagi Paddy untuk mengembangkan jasa bagi petani lain.

Bagi Paddy, teknologi bukan sesuatu yang menjauhkan generasi muda dari sektor pertanian. Justru sebaliknya, teknologi dapat menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk tetap terlibat dan menciptakan nilai ekonomi dari dunia tani.

Baca juga:  Harta Karun di Mamuju, Kandungan REE LTJ Disebut Tertinggi di Indonesia

Di sisi lain, Suparman memanfaatkan sumber daya air untuk mengembangkan usaha perikanan.

Ia membudidayakan ikan nila dan ikan mas dengan menjadikan kolam sebagai ruang produksi. Dari sana, sumber daya yang sebelumnya hanya dipandang sebagai bagian dari lingkungan desa diubah menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi.

Anak Muda dan Ekonomi Desa

Empat usaha tersebut menunjukkan bahwa potensi ekonomi desa tidak selalu harus hadir dalam bentuk industri berskala besar.

Kadang, peluang justru berada sangat dekat: di kandang ternak, lahan pertanian, kolam ikan, maupun alat mesin yang digunakan untuk membantu pekerjaan petani.

Herianto, Angga Resky, Paddy, dan Suparman memang menempuh jalan yang berbeda. Namun, keempatnya memiliki satu kesamaan, yakni keberanian untuk melihat potensi lokal dari sudut pandang yang berbeda.

Baca juga:  Kalosi Alau Juara Lomba Desa Berprestasi Sulsel, Siap Wakili ke Tingkat Nasional

Mereka tidak menunggu peluang datang dari luar desa. Mereka memilih mengidentifikasi apa yang tersedia di sekitar, mempelajarinya, kemudian mengubahnya menjadi aktivitas produktif.

Semangat semacam ini menjadi penting bagi pembangunan ekonomi desa. Sebab, keberadaan anak muda tidak hanya dibutuhkan sebagai penerus, tetapi juga sebagai penggerak yang mampu memperkenalkan cara-cara baru dalam mengelola potensi lokal.

Ketika kreativitas bertemu dengan kerja keras dan kemauan untuk belajar, desa dapat menjadi ruang tumbuh bagi berbagai jenis usaha.

Dari Lagading, kisah empat pemuda itu memperlihatkan bahwa membangun masa depan tidak selalu harus dimulai dengan meninggalkan desa.

Terkadang, peluang itu sudah tersedia di depan mata. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melihatnya, mengolahnya, dan menjadikannya sesuatu yang bernilai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru