33 C
Makassar
Rabu, November 4, 2026

Empat Agenda Rekonstruksi Desa Adat Sade, Ada Master Plan hingga Proteksi Kebakaran

Wajib Dibaca

Desa Terkini, NTB – Pemerintah menyiapkan empat agenda utama untuk merekonstruksi Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah kawasan adat tersebut terdampak kebakaran.

Keempat agenda itu mencakup pembentukan tim kerja lintas sektor untuk pendataan korban, pembukaan kanal donasi, penyusunan master plan rekonstruksi, serta pembangunan rumah layak tinggal bagi masyarakat adat.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan rekonstruksi Sade harus dilakukan secara menyeluruh dengan menempatkan masyarakat adat sebagai bagian utama dari setiap tahapan pembangunan. Upaya tersebut juga harus tetap mempertahankan nilai budaya, kearifan lokal, serta karakter arsitektur tradisional Suku Sasak.

Rencana tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar setelah Widiyanti meninjau langsung Desa Adat Sade pada Kamis 27 Agustus 2026. Rakor turut melibatkan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, Forkopimda, Politeknik Pariwisata Lombok, mitra, serta berbagai unsur ekosistem pariwisata.

Empat Agenda Rekonstruksi Jangka Panjang

Agenda pertama adalah membentuk tim kerja lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, mitra, serta masyarakat adat.

Tim ini akan melakukan pendataan secara lebih rinci terhadap masyarakat dan pekerja yang terdampak kebakaran. Pendataan tersebut diharapkan membuat penyaluran bantuan lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing penerima.

Agenda kedua adalah membuka satu akun donasi sebagai kanal pengumpulan bantuan untuk mendukung proses rekonstruksi Desa Adat Sade.

Ketersediaan bahan baku untuk membangun kembali rumah-rumah tradisional menjadi salah satu tantangan yang perlu segera dicarikan solusinya.

Agenda ketiga berupa penyusunan master plan rekonstruksi. Penyusunannya akan melibatkan pemerintah, para pemangku kepentingan, dan terutama masyarakat adat Sade.

Baca juga:  22 Kios dan Los Terbakar, Pedagang Pasar Pa’baeng-baeng Harap Ada Ganti Rugi

Master plan tersebut nantinya menjadi pedoman pembangunan kembali kawasan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus menjaga karakter dan identitas Desa Adat Sade.

Pemerintah juga berharap konsep tersebut dapat menjadi proyek percontohan atau pilot project bagi desa-desa adat lainnya dalam membangun sistem mitigasi risiko dan keselamatan tanpa menghilangkan karakter tradisional.

Salah satu aspek yang akan dimasukkan dalam rekonstruksi adalah sistem proteksi kebakaran terintegrasi. Pemerintah mempertimbangkan penyediaan titik-titik alat pemadam api ringan (APAR) komunal yang dirancang menyatu dengan estetika kawasan.

Selain itu, pembangunan embung atau penampungan air darurat di sekitar kawasan juga dinilai penting untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.

“Bagaimana teknologi yang ada sekarang bisa dimanfaatkan sehingga tersedia infrastruktur keselamatan dan bisa menjadi contoh bagi desa-desa adat lainnya.

Mudah-mudahan ini tidak membutuhkan waktu lama,” kata Menpar Widiyanti.

Pembangunan infrastruktur dasar seperti amenitas, sanitasi, pengelolaan sampah, hingga sistem proteksi kebakaran juga akan menjadi bagian dari proses rekonstruksi.

Agenda keempat adalah pembangunan rumah layak tinggal. Program serupa sebelumnya telah dilakukan pemerintah daerah bersama Kementerian Pariwisata dengan membangun 40 unit rumah layak tinggal bagi masyarakat adat Sade.

189 KK dan 320 Pelaku Pariwisata Terdampak

Rencana rekonstruksi tersebut disusun setelah kebakaran memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat Sade.

Berdasarkan data sementara Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, dan Tim Lapangan Poltekpar Lombok per 27 Agustus 2026, sebanyak 189 kepala keluarga dan 320 pelaku pariwisata terdampak.

Baca juga:  UIM Perkuat Potensi Biring Ere Pangkep Jadi Desa Wisata Berbasis Agroindustri

Kerusakan bangunan meliputi 75 rumah adat, 69 artshop, delapan lumbung alang, satu menara pantau, empat Berugak Sekenam, enam Berugak Sakepat, serta satu Bale Beleq atau museum.

Sejumlah fasilitas lainnya juga ikut terdampak.

Bagi masyarakat Sade, kerusakan tersebut tidak hanya berarti kehilangan bangunan. Rumah tradisional juga menjadi bagian dari kehidupan ekonomi dan identitas budaya masyarakat Sasak.

Karena itu, proses pemulihan diarahkan tidak sekadar membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi juga memulihkan aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan pariwisata masyarakat.

“Kami dari Kementerian Pariwisata bersama Poltekpar juga membantu, kami akan rapatkan dengan Pemda tentang bagaimana memulihkan kembali dan membangun kembali dan tentu sama-sama melibatkan masyarakat. InsyaAllah kita bisa berkolaborasi,” kata Menpar Widiyanti saat berbincang bersama Kepala Adat dan Masyarakat Sade.

Selain agenda jangka panjang, pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah jangka pendek, mulai dari penyediaan stok makanan, dapur umum dan bantuan logistik, hingga program pemberdayaan masyarakat.

Kementerian Pariwisata melalui Politeknik Pariwisata Lombok bekerja sama dengan BNPB, TNI/Polri, dan PMI dalam penanganan kebutuhan selama masa tanggap darurat.

Pemulihan ekonomi masyarakat juga menjadi perhatian. Pemerintah menyiapkan program trauma healing bagi korban, khususnya anak-anak, serta bimbingan teknis bagi Pokdarwis dan warga mengenai SOP tanggap darurat serta evakuasi wisatawan.

Pendampingan pembangunan usaha juga akan diperkuat, termasuk dukungan modal kerja, alat menenun, dan penyediaan tempat sementara agar aktivitas ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan.

Kementerian Pariwisata turut memberikan sejumlah alat tenun kepada masyarakat Desa Adat Sade.

Baca juga:  PARDAS Angkatan V 2026 Perkuat Kompetensi Aparatur Pariwisata Nasional

Museum dan Masjid Ditargetkan Sebelum Peak Season

Dalam rencana pemulihan, pemerintah juga membahas pembangunan museum sementara dan masjid.

Museum tersebut diharapkan menjadi ruang bagi wisatawan untuk mengenal sejarah, budaya, serta kehidupan masyarakat Suku Sasak secara autentik.

Sementara masjid akan digunakan sebagai fasilitas ibadah masyarakat sekaligus mendukung kenyamanan wisatawan Muslim.

Pembangunan kedua fasilitas itu ditargetkan rampung menjelang periode peak season, khususnya momentum penyelenggaraan MotoGP di Mandalika.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengapresiasi langkah Kementerian Pariwisata yang ikut mendorong agenda rekonstruksi Desa Adat Sade.

“Ibu Menteri tadi sudah mengarahkan fondasi bagi kita untuk mulai berpikir jangka menengah dan jangka panjang, yaitu ke arah rekonstruksi untuk membangun Sade, mencakup penyiapan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan untuk keberlanjutan desa tersebut,” kata Iqbal.

Sementara itu, warga Desa Adat Sade Amak Pani menegaskan masyarakat tetap ingin mempertahankan keaslian rumah tradisional dalam proses pembangunan kembali.

“Jadi kami tidak akan menghilangkan nilai tradisional dari bentuk rumah kami di sini. Saya selaku masyarakat Suku Sasak Sade mengucapkan matur tampiasih atas kunjungannya yang sudah membantu dan meliput kami. Semoga dengan adanya aktivitas ini banyak mengundang para donatur yang berkunjung ke tempat kami sehingga kami bisa membangun rumah tradisional kami seperti semula,” ujar Amak Pani.

Pemerintah berharap rekonstruksi Desa Adat Sade tidak hanya mengembalikan kondisi kawasan seperti sebelum kebakaran, tetapi juga membuat desa tersebut lebih tangguh menghadapi risiko bencana sekaligus menjaga keberlanjutan pariwisata berbasis masyarakat.

Reporter : Ivan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Populer