Desa Terkini, Jakarta – Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di tingkat desa tidak hanya membutuhkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan dan merawat fasilitas energi secara berkelanjutan.
Penguatan kapasitas masyarakat desa menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan energi bersih.
PT Pertamina (Persero), misalnya, memfasilitasi sertifikasi kompetensi bagi 21 pengelola lokal atau local hero yang terlibat dalam Program Desa Energi Berdikari (DEB).
Sertifikasi tersebut berlangsung pada 5–7 Agustus 2026 di Balkondes Wringin Putih, Borobudur, Magelang.
Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai regulasi ketenagalistrikan, metodologi sertifikasi kompetensi, hingga pengoperasian dan pemeliharaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh Sertifikat Junior Operator PLTS yang diterbitkan oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan keberadaan infrastruktur energi terbarukan perlu diikuti dengan kemampuan masyarakat dalam mengelola fasilitas tersebut.
“Keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh hadirnya infrastruktur, tetapi juga oleh masyarakat yang mampu mengoperasikan, merawat, dan mengembangkannya. Karena itu, Pertamina terus memperkuat kapasitas para local hero agar manfaat Desa Energi Berdikari dapat terus menggerakkan kehidupan masyarakat dan perekonomian desa,” ujar Baron dalam keterangan resmi, Sabtu 8 Agustus 2026.
Menurutnya, masyarakat yang menjadi pengelola lokal memiliki peran penting agar fasilitas energi terbarukan tidak berhenti sebagai proyek pembangunan, tetapi dapat terus memberikan manfaat bagi kehidupan dan aktivitas ekonomi warga.
Salah satu contohnya terlihat di Kampung Posa, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Alfredo Nicholas Saputra Kolin menjadi pengelola PLTS berkapasitas 3,3 kilowatt peak (kWp) yang digunakan untuk mendukung sistem pengolahan air bersih.
PLTS tersebut menjadi bagian penting dalam penyediaan air bersih bagi masyarakat yang sebelumnya mengandalkan air hujan atau Sungai Klasafet.
“Kalau listrik dari PLTS berhenti, air bersih juga ikut berhenti. Karena itu saya harus memastikan semuanya berjalan dengan baik,” kata Alfredo.
Pemanfaatan energi terbarukan juga diarahkan untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Di Desa Tumpak, Lombok Tengah, misalnya, Burhanudin mengelola PLTS berkapasitas 6,6 kWp yang memasok listrik untuk mesin produksi Virgin Coconut Oil (VCO).
“Sekarang produksi bisa berjalan lebih lancar. Listrik dari PLTS membuat kami lebih percaya diri mengembangkan usaha,” ujar Burhanudin.
Hingga kini, Program Desa Energi Berdikari telah menjangkau 262 desa di berbagai wilayah Indonesia.
Sebanyak 128 local hero di antaranya telah memiliki sertifikasi kompetensi.
Pertamina mencatat program tersebut juga menghasilkan sejumlah dampak sosial dan ekonomi.
Pengembangan energi terbarukan melalui PLTS, mikrohidro, serta pembangkit hibrida surya-angin telah mencapai kapasitas 1.302.700 watt peak (Wp).
Selain itu, program tersebut menghasilkan sekitar 959.302 meter kubik biogas dan metana serta menciptakan nilai ekonomi sekitar Rp5,65 miliar per tahun.
Manfaat program juga disebut telah dirasakan 283.841 jiwa, termasuk 62 penyandang disabilitas.
Dampaknya mencakup peningkatan akses energi, penyediaan air bersih, pengembangan usaha masyarakat, hingga pemberdayaan ekonomi desa.
Penguatan kapasitas pengelola lokal menjadi bagian penting dalam memastikan pemanfaatan energi terbarukan di desa dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Dengan keterampilan yang memadai, fasilitas yang telah dibangun tidak hanya menjadi infrastruktur energi, tetapi juga dapat menopang berbagai aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Pengembangan energi bersih berbasis masyarakat di tingkat desa sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas akses energi terbarukan dan mendorong kemandirian energi, sejalan dengan agenda transisi energi dan pencapaian target pembangunan berkelanjutan.


