Desa Terkini, Jakarta – Lembaga Ketahanan Desa (Lemhades) menggelar audiensi dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas di Jakarta, Selasa 14 Juli 2026.
Audiensi berlangsung di Ruang DH-3 Kantor Bappenas. Pertemuan dihadiri Ketua Umum Lemhades Dr. Sirman Purba bersama jajaran pengurus, dewan pengawas, dewan pakar, penggiat konservasi Kopi Typica, serta mitra. Sejumlah kepala desa, pengelola BUMDes, dan perwakilan BRIN juga mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom.
Dalam pertemuan tersebut, Lemhades mempresentasikan konsep pembangunan desa berbasis konservasi, geowisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang diharapkan dapat menjadi model pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Salah satu pendiri Lemhades, Sri Rahayu Usmi, mengatakan audiensi tersebut menjadi momentum memperkenalkan program strategis organisasi sekaligus membangun sinergi dengan Bappenas dalam memperkuat ketahanan desa.
“Kami memulai dari konservasi sebagai fondasi membangun ketangguhan desa. Konsep ini tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat melalui pengelolaan potensi lokal,” ujar Sri Rahayu yang mengikuti rapat via Zoom.
Dalam presentasinya, Lemhades mengangkat tema “Percepatan Pengembangan Geowisata, Konservasi, dan Ketangguhan Desa di UNESCO Global Geopark Kaldera Toba”. Program tersebut menempatkan konservasi sebagai pintu masuk pembangunan desa yang terintegrasi dengan pengembangan ekonomi masyarakat.
Lemhades memaparkan empat materi utama kepada jajaran Bappenas, yakni program konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat menuju desa tangguh, lima komponen program utama Lemhades, konservasi Kopi Typica sebagai strategic entry point menuju pengembangan kawasan Kaldera Toba, serta Model Ekonomi Pancasila Terapan berbasis konservasi Kopi Typica.
Dalam model tersebut, Lemhades menjelaskan skema kolaborasi antara pemerintah, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), petani, dan masyarakat. Pendanaan berasal dari APBN maupun lembaga filantropi untuk pengadaan bibit kopi konservasi.
“Lemhades bertugas menyusun desain program, melakukan monitoring dan evaluasi, pelaporan, hingga mitigasi risiko penanaman kembali (replanting),” ujar mantan Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Sulawesi Selatan (Sulsel) itu.
Selanjutnya, BUMDes membeli bibit kopi konservasi bersertifikat dari petani lokal, kemudian menyalurkannya kepada kelompok penerima manfaat untuk ditanam di lahan produktif.
Program tersebut juga dirancang mengedepankan prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) dengan memprioritaskan perempuan kepala keluarga, penyandang disabilitas, lanjut usia, serta keluarga miskin pada kelompok desil 1 dan 4 sebagai penerima manfaat.
Menurut Sri Rahayu Usmi, pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memperkuat ekonomi desa melalui pengembangan komoditas kopi unggulan yang memiliki nilai konservasi dan nilai ekonomi tinggi.
Sri Rahayu Usmi berharap gagasan yang dipaparkan dapat menjadi salah satu referensi dalam penyusunan kebijakan pembangunan desa yang berkelanjutan, khususnya di kawasan UNESCO Global Geopark Kaldera Toba.
“Lemhades ingin menghadirkan model pembangunan yang menghubungkan konservasi alam, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi desa dalam satu ekosistem. Dengan semangat ‘Satu Tekad, Satu Desa, Satu Daya’, kami optimistis desa dapat menjadi lebih tangguh sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.



