34 C
Makassar
Kamis, September 17, 2026

Kekurangan Guru, Ruang Kelas Hingga Melawan Ombak, Ini Potret Pendidikan Pulau Kapoposang

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Pangkep – Pulau Kapoposang, yang berada di Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, masih menghadapi berbagai tantangan dalam sektor pendidikan.

Keterbatasan ruang kelas, minimnya tenaga pendidik, hingga akses pendidikan lanjutan menjadi persoalan yang harus dihadapi anak-anak di pulau tersebut.

SD Negeri 12 Kapoposang menjadi satu-satunya sekolah dasar di pulau itu yang melayani 85 siswa dari kelas I hingga kelas VI.

Karena jumlah ruang belajar dan guru yang terbatas, proses pembelajaran dilakukan dengan sistem kelas gabungan.

Kepala SD Negeri 12 Kapoposang, Edi Sakram, mengatakan siswa kelas I dan II belajar dalam satu ruangan, begitu pula siswa kelas III dan IV.

“Kalau kelas I dan II materinya hampir sama, seperti membaca dan berhitung. Begitu juga kelas III dan IV yang digabung karena kondisi ruangan dan tenaga pengajar,” ujarnya saat ditemui awak media di Pulau Kapoposang, belum lama ini.

Saat ini, sekolah tersebut hanya memiliki enam guru, termasuk kepala sekolah, untuk melayani seluruh peserta didik.

Baca juga:  Perbaikan Jalan Sulsel Digenjot, 49 Ruas Dikerjakan-36 Lainnya Tahap Perencanaan

Bangunan SD Negeri 12 Kapoposang berdiri sejak era 1980-an melalui swadaya masyarakat. Awalnya seluruh bangunan berbahan kayu, sebelum sebagian direhabilitasi menjadi bangunan permanen pada 2019 melalui bantuan pemerintah.

Hingga kini sekolah memiliki lima ruang kelas serta satu perpustakaan yang dibangun pada 2004. Sebagian koleksi buku di perpustakaan berasal dari bantuan Bank Mandiri berupa buku cerita dan kamus.

Meski telah beberapa kali direnovasi, fasilitas sekolah dinilai masih belum memadai. Tahun ini, SD Negeri 12 Kapoposang masuk dalam program revitalisasi.

“Kami berharap ruang kelas bisa bertambah sehingga anak-anak tidak lagi belajar dengan sistem kelas gabungan. Kami juga berharap ada pagar sekolah dan perbaikan fasilitas seperti WC,” kata Edi.

Tantangan pendidikan di Pulau Kapoposang tidak berhenti saat siswa menyelesaikan pendidikan dasar. Selama bertahun-tahun, lulusan SD harus menyeberangi laut menuju Pulau Pandangan untuk bersekolah di SMP terdekat.

Baca juga:  Polisi, TNI, Jaksa hingga Chef Cilik Ramaikan Hari Pertama Sekolah di SIT Alif Cendekia Gowa

Perjalanan antarpulau sangat bergantung pada kondisi cuaca. Ketika angin kencang dan ombak tinggi, penyeberangan menjadi berisiko bagi para pelajar.

“Orang tua harus mengantar anak sejak subuh, kemudian kembali menjemput setelah pulang sekolah. Waktu melaut mereka jadi berkurang,” tutur Edi.

Menurutnya, biaya transportasi sekitar Rp16 ribu untuk pulang pergi bukan menjadi persoalan utama, melainkan keselamatan anak-anak dan waktu yang harus dikorbankan keluarga nelayan.

Kepala Desa Mattiro Ujung, Hasanuddin, mengatakan pemerintah desa terus mengupayakan agar siswa SMP dapat belajar di Pulau Kapoposang tanpa harus menyeberang setiap hari.

“Dulu setiap pagi kami kadang mengajak anak-anak menyeberang kalau kebetulan pergi ke kantor. Tapi itu tidak selalu bisa karena mereka juga menggunakan perahu milik orang tuanya,” ujarnya.

Menurut Hasanuddin, kondisi cuaca menjadi alasan utama pemerintah desa mendorong pembukaan kelas jauh SMP di Pulau Kapoposang.

“Kalau angin dan ombak sedang besar, tentu sangat berbahaya bagi anak-anak. Karena itu kami terus berupaya agar mereka bisa bersekolah di pulau sendiri,” katanya.

Baca juga:  Lihat Situs Prasejarah di Belae Pangkep, Mahasiswa KKN-T Unhas Bangun Branding Digital

Upaya tersebut akhirnya terealisasi melalui pembukaan kelas jauh SMP di Pulau Kapoposang.

Kegiatan belajar mengajar memanfaatkan ruang kelas SD Negeri 12 Kapoposang setelah jam sekolah dasar selesai, dengan dukungan guru-guru SD setempat.

Meski demikian, hingga kini Pulau Kapoposang masih belum memiliki gedung SMP maupun SMA permanen.

Siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi masih harus menempuh perjalanan ke pulau lain atau merantau ke daratan apabila kondisi ekonomi keluarga memungkinkan.

Selain dikenal menghadapi tantangan pendidikan, Pulau Kapoposang juga merupakan salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Kepulauan Spermonde.

Pulau ini memiliki keindahan bawah laut yang menjadi bagian dari kawasan Coral Triangle, serta menjadi habitat konservasi penyu, hiu paus, pari, dan lumba-lumba yang menjadi daya tarik bagi wisatawan penyelam maupun snorkeler.

Reporter : Andi Alfath

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru