35 C
Makassar
Kamis, September 17, 2026

Bromo Dibuka Kembali Usai Kebakaran 1.120 Hektare, Dewan Soroti Risiko Karhutla

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Jatim – Kawasan wisata Gunung Bromo kembali dibuka setelah kebakaran hutan dan lahan menghanguskan sekitar 1.120 hektare. Pembukaan kembali destinasi wisata tersebut disambut positif Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur Khusnul Khuluk.

Namun, ia mengingatkan pemerintah, petugas, pelaku usaha, dan wisatawan agar tidak menurunkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terlebih kondisi masih memasuki musim kemarau.

Kawasan wisata Gunung Bromo kembali menerima kunjungan wisatawan sejak Kamis 20 Agustus 2026 pukul 00.01 WIB. Pembukaan dilakukan secara serentak melalui empat jalur akses, yakni Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.

Meski telah dibuka, jumlah kunjungan wisatawan masih dibatasi maksimal 2.752 orang per hari.

“Alhamdulillah kalau sudah dibuka kembali. Tetapi karena sekarang masih bulan kemarau, petugas tidak boleh lengah. Harus terus memantau dan mempersiapkan alat-alat yang kemungkinan diperlukan jika terjadi kebakaran kembali,” kata Khusnul.

Menurutnya, dibukanya kembali Bromo memberikan dampak positif bagi wisatawan sekaligus masyarakat di empat daerah penyangga. Aktivitas pariwisata di kawasan tersebut turut menggerakkan perekonomian pelaku usaha, mulai dari penyedia jasa jeep, penginapan, pedagang, hingga sektor transportasi.

Baca juga:  Vasaka Hotel Makassar Tawarkan Dinner Romantis Mulai Rp500 Ribu per Pasangan

Bromo merupakan salah satu destinasi unggulan Jawa Timur yang dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara. Kawasan ini memiliki daya tarik berupa lanskap vulkanik, lautan pasir, kawah aktif, panorama matahari terbit, serta kekayaan budaya masyarakat Tengger.

“Bromo ini bukan hanya milik satu daerah. Ini aset pariwisata Jawa Timur yang sudah dikenal secara internasional. Karena itu, kita harus menjaganya bersama-sama. Jangan sampai kejadian kebakaran kembali mengganggu keberlanjutan pariwisata kita,” tegas legislator PKS tersebut.

Wisatawan Diminta Tidak Memicu Kebakaran

Khusnul juga meminta wisatawan ikut berperan dalam mencegah terjadinya kebakaran di kawasan Bromo. Menurutnya, kondisi kemarau membuat vegetasi di kawasan tersebut lebih mudah terbakar sehingga aktivitas pengunjung harus diawasi secara ketat.

“Pengunjung juga harus berhati-hati. Jangan membuang puntung rokok sembarangan. Hindari kegiatan-kegiatan yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran,” ujarnya.

Ia menilai pembatasan jumlah wisatawan yang diberlakukan setelah kebakaran tidak semata-mata berkaitan dengan pengendalian kunjungan. Kebijakan tersebut juga penting untuk menjaga daya dukung lingkungan dan memastikan aktivitas wisata tidak memperbesar risiko kerusakan kawasan.

Baca juga:  Kemenhut Tutup Sementara Sejumlah Jalur Pendakian Gunung Sebab Karhutla

“Keselamatan pengunjung dan kelestarian kawasan harus menjadi prioritas. Jangan karena ingin mengejar jumlah wisatawan, kemudian aspek keselamatan dan lingkungan diabaikan,” terangnya.

Pemulihan Ekosistem Perlu Dipercepat

Khusnul meminta pemerintah tidak berhenti pada upaya pemadaman dan pembukaan kembali kawasan wisata. Menurutnya, wilayah yang terdampak kebakaran harus segera mendapatkan penanganan lanjutan melalui program pemulihan ekosistem.

Salah satu langkah yang dinilai penting ialah penghijauan kembali kawasan yang mengalami kerusakan akibat kebakaran.

“Ke depan memang harus ada pola penghijauan, sehingga Bromo bisa kembali lebih asri dan lebih bagus serta tidak terjadi lagi kebakaran,” sambungnya.

Ia menekankan, program rehabilitasi harus disesuaikan dengan karakter ekosistem Bromo. Pelibatan masyarakat sekitar juga dinilai penting agar proses pemulihan lingkungan berjalan berkelanjutan sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap kawasan konservasi.

Baca juga:  Diikuti 70 Peserta, Lomba Perahu Layar Lapakaka Barru Masuk Tahun Kelima

Selain penghijauan, pemerintah didorong memperkuat edukasi kepada wisatawan, pelaku usaha, dan masyarakat sekitar mengenai pencegahan kebakaran serta tata cara beraktivitas yang aman di kawasan wisata.

Menurut Khusnul, pengelolaan Bromo perlu menggunakan pendekatan pariwisata berkelanjutan. Manfaat ekonomi dari sektor pariwisata harus tetap berjalan, tetapi kelestarian alam dan budaya masyarakat Tengger tidak boleh diabaikan.

“Kalau Bromo kita jaga, yang mendapatkan manfaat bukan hanya wisatawan. Masyarakat di sekitar juga mendapatkan manfaat ekonomi. Pelaku UMKM, jeep, penginapan, pedagang, hingga sektor transportasi semuanya bergerak,” jelasnya.

Ia berharap pembukaan kembali Gunung Bromo menjadi momentum untuk memperbaiki sistem pengelolaan destinasi wisata agar lebih aman, tertib, dan ramah lingkungan.

“Bromo harus kita jaga sebagai destinasi kelas dunia. Wisatawan boleh datang, ekonomi masyarakat harus tumbuh, tetapi alamnya juga harus tetap lestari. Jangan sampai kita menikmati keindahan Bromo hari ini dengan mengorbankan Bromo untuk generasi berikutnya,” pungkas Khusnul Khuluk.

Reporter : Bayu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru