27.5 C
Makassar
Selasa, Agustus 4, 2026

Zulhas Heran Isu Kopdes di Tengah Laut: Gimana Nyemennya Itu?

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Makassar – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas membantah keras isu yang menyebut pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih maupun Koperasi Nelayan Merah Putih dilakukan di tengah laut.

Menurutnya, informasi tersebut tidak masuk akal dan diduga merupakan upaya untuk mendiskreditkan program pemberdayaan ekonomi yang sedang dijalankan pemerintah.

Zulhas sapaannya mengatakan tudingan tersebut sama sekali tidak berdasar. Ia bahkan mempertanyakan logika pembangunan fasilitas koperasi di tengah laut.

“Itu memang di mana? Nggak bangun di tengah laut, gimana nyemennya itu? Ya apa, warung suruh tutup. Ini memang saya kira mungkin ada yang terganggu ya, menyerang begitu, kita enggak tahu,” kata Zulhas saat ditemui awak media selepas Seminar Nasional Kopdes/Kel Merah Putih di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulsel, Selasa 4 Agustus 2026.

Ia menegaskan, kopdes bukanlah jaringan toko modern ataupun supermarket, melainkan sarana ekonomi desa yang dirancang menjadi penyangga bagi petani dan nelayan.

Baca juga:  Viral Omset Kopdes/Kel Hanya Rp70 ribu, Pengamat Desa Nilai Modal Besar Tak Jamin Sukses

Salah satu fungsi utamanya adalah sebagai pembeli siaga (offtaker) untuk menjaga harga hasil produksi masyarakat tetap stabil.

Menurut Zulhas, kehadiran koperasi akan melindungi petani ketika harga gabah mengalami penurunan.

Dalam kondisi tersebut, koperasi akan membeli hasil panen dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah, yakni Rp6.500 per kilogram.

Skema serupa juga akan diterapkan di sektor perikanan. Selama ini hasil tangkapan nelayan sering dibeli murah oleh tengkulak karena keterbatasan fasilitas penyimpanan.

Melalui kopdes, pemerintah akan menyediakan cold storage dan pabrik es sehingga hasil tangkapan dapat disimpan sebelum dipasarkan.

“Ikan di laut murah-murah dibeli tengkulak, nanti kalau sudah ada koperasi, taruh di cold storage, dikasih pabrik es, bisa disimpan dulu. Kalau enggak laku nanti koperasi yang beli ikannya. Ikan jual ke mana? Ke SPPG,” jelasnya.

Selain menjadi pusat distribusi hasil pertanian dan perikanan, koperasi juga akan dilengkapi berbagai layanan publik.

Baca juga:  Perpres Segera Terbit, Kopdes Jadi Infrastruktur Penyaluran Bantuan Pemerintah

Zulhas menyebut kopdes akan terintegrasi dengan layanan kantor pos serta sistem pembayaran digital seperti BRILink sehingga masyarakat desa memiliki akses yang lebih mudah terhadap layanan keuangan dan perbankan.

Menurutnya, integrasi tersebut sekaligus akan mendukung penyaluran bantuan sosial agar lebih tepat sasaran melalui sistem pendataan berbasis nama dan alamat penerima.

“Jadi desa punya akses terhadap pusat, pusat-pusat produksi, keuangan, akses, perbankan desa jadi dekat,” katanya.

Sementara itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto memastikan pembangunan 35.800 gudang dan gerai KDMP terus dipercepat hingga akhir 2026.

Proyek tersebut dikerjakan melalui kolaborasi dengan TNI Angkatan Darat.

“Tidak lebih dari 1 tahun sudah menyelesaikan 35.800 gudang dan gerai KDMP, lengkap dengan alat logistiknya, yaitu 1 truk, 1 pikap, dan 2 motor roda tiga,” ujar Yandri.

Ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan di lapangan, terutama bagi desa yang memiliki lahan kurang dari 1.000 meter persegi atau bahkan belum memiliki lahan sama sekali.

Baca juga:  Kemenhan Pangkas Pelatihan Manajer Kopdes, Materi Militer Dihapus

Namun, pemerintah memastikan penyelesaiannya dilakukan secara bertahap.

“Kan sudah berapa puluh ribu, memang bertahap tidak sekaligus, sama dengan Kopdes tidak sekaligus,” katanya.

Yandri menambahkan pembangunan KDMP mengedepankan sinergi lintas kementerian dan lembaga.

Kemendes PDT berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi (Kemenkop) Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), hingga Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengembangkan desa-desa berbasis komoditas unggulan seperti jagung, melon, dan semangka.

Selain itu, kerja sama dengan TNI AD juga diperluas untuk mendukung pembangunan infrastruktur dasar di wilayah tertinggal, termasuk pembangunan jembatan dan penyediaan sumber air bersih.

“Kita ini bukan Superman, tapi Super Team. Jadi Kementerian Desa itu sifatnya lebih banyak kolaboratif. Fokus juga di daerah 3T dan kita kerja sama juga dengan TNI AD untuk buat jembatan, sumber air bersih,” pungkasnya.

Reporter : Andi Alfath

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru