35 C
Makassar
Kamis, September 17, 2026

Bandara Soetta Kembali Dibuka, 113 Ribu Penumpang Diproyeksikan Hari Ini

Wajib Dibaca

Desa Terkini, Makassar – Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) kembali dibuka melayani penerbangan mulai pukul 00.30 WIB, Selasa 8 September 2026, setelah sebelumnya operasional penerbangan terdampak kondisi abu vulkanik.

Dalam rilis Bandara Soetta, pembukaan kembali operasional tersebut dilakukan sesuai dengan Notice to Airmen (NOTAM) yang diterbitkan AirNav Indonesia.

Sebelum penerbangan kembali dilayani, pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta memastikan kesiapan berbagai fasilitas, baik di sisi darat maupun sisi udara.

Di area landside, pemeriksaan dilakukan terhadap fasilitas pelayanan di terminal, mulai dari area keberangkatan dan kedatangan, konter check-in, pemeriksaan keamanan, ruang tunggu hingga fasilitas pendukung lainnya.

Kesiapan petugas operasional dan personel pelayanan juga diperiksa untuk memastikan proses pelayanan penumpang dapat kembali berjalan dengan baik.

Sementara di sisi udara atau airside, pemeriksaan dan pembersihan dilakukan pada sejumlah area penting, termasuk apron, taxiway dan runway. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan fasilitas penerbangan berada dalam kondisi siap serta memenuhi aspek keselamatan.

90 Penerbangan Sudah Dilayani

Setelah kembali dibuka, operasional penerbangan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan.

Hingga pukul 08.00 WIB, tercatat sebanyak 90 penerbangan telah dilayani di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Jumlah tersebut terdiri atas 76 penerbangan keberangkatan dan 14 penerbangan kedatangan. Jika berdasarkan rute, sebanyak 79 penerbangan merupakan penerbangan domestik, sedangkan 11 lainnya merupakan penerbangan internasional.

Baca juga:  Rute Makassar-Jakarta di Bandara Sulhas Kembali Terbang

Untuk keseluruhan operasional pada Selasa 8 September 2026, Bandara Internasional Soekarno-Hatta diproyeksikan melayani sekitar 113.001 penumpang dengan total 896 penerbangan.

Pada tahap awal pemulihan atau recovery, pergerakan pesawat dilakukan secara bertahap dan terukur. Pengaturan tersebut mempertimbangkan kondisi operasional di lapangan sekaligus untuk menjaga kelancaran arus keberangkatan dan kedatangan.

Selain itu, pola operasional tersebut ditujukan untuk mendukung penanganan penerbangan yang sebelumnya terdampak penghentian sementara operasional.

Calon penumpang yang akan melakukan perjalanan diimbau memantau kembali status dan jadwal penerbangan melalui kanal resmi maskapai masing-masing sebelum berangkat menuju bandara.

Informasi mengenai layanan Bandara Internasional Soekarno-Hatta juga dapat diperoleh melalui Contact Center InJourney Airports 172.

Erupsi Mulai Menurun 

Pemulihan operasional penerbangan tersebut berlangsung seiring dengan kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau yang dilaporkan mulai menurun. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto dalam rapat terbatas penanganan bencana yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin 7 September 2026, menyebut tingkat erupsi saat ini lebih rendah dibandingkan erupsi Anak Krakatau pada 2018.

“Menurut kami BNPB per hari ini, untuk kondisi erupsinya ini sudah menurun. Kami membandingkan kondisi 2026 ini dengan erupsi 2018, di mana di 2018 itu terjadi sama, hampir sama, tetapi tingkat erupsinya lebih tinggi daripada 2026,” ujar Kepala BNPB.

Baca juga:  Merdeka yang Tak Berpijak: Refleksi 81 Tahun Indonesia, Apakah Desa Sudah Merdeka?

Meski aktivitas erupsi menurun, sebaran abu vulkanik sebelumnya sempat memengaruhi wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung dan Sumatra Selatan, serta berdampak terhadap operasional sejumlah bandara.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kondisi angin juga menunjukkan perkembangan yang mendukung pemulihan. Arah angin di sejumlah lapisan ketinggian telah bergeser ke barat, barat laut dan barat daya sehingga tidak lagi dominan menuju tenggara seperti sebelumnya.

BMKG juga memprakirakan potensi awan dan hujan ringan hingga sedang di wilayah terdampak pada 9–12 September 2026. Potensi hujan tersebut akan diperkuat melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan bersama BNPB untuk membantu mempercepat peluruhan abu vulkanik.

“Kami sudah memantau bahwa kira-kira di tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini akan ada potensi awan dan juga hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, khususnya di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Untuk itu nanti akan kami pertebal dengan OMC bersama dengan BNPB,” ujar Kepala BMKG.

Sementara itu, hasil pemantauan menggunakan paper test di sejumlah bandara menunjukkan kondisi yang semakin membaik. Pemeriksaan di empat bandara, yakni Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara dan Budiarto Curug, dilaporkan menunjukkan hasil negatif terhadap debu vulkanik.

Baca juga:  Gunung Ibu Malut Erupsi Berulang, Warga Dilarang Mendekat 2 Km

“Untuk Soekarno-Hatta ini empat kali berturut-turut paper test-nya telah menunjukkan hasil negatif, artinya tidak ada debu vulkanik yang terpantau dari paper test ini. Hal ini terus kami komunikasikan dengan VAAC yang ada di Darwin agar sigmetnya (significant meteorological information) dapat dipulihkan,” ungkapnya.

BMKG juga terus berkoordinasi dengan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, Australia, yang menjadi bagian dari sistem pemantauan abu vulkanik untuk penerbangan internasional.

Selain penerbangan, pemerintah masih memantau potensi dampak erupsi terhadap wilayah pesisir. Sebanyak 20 perangkat pemantauan tsunami telah dipasang di sekitar Selat Sunda dan hingga kini belum ditemukan anomali kenaikan muka air laut yang berkaitan dengan aktivitas Anak Krakatau.

Pemantauan juga diperkuat menggunakan sensor seismograf dan high frequency radar untuk mendeteksi perubahan kondisi laut secara cepat.

Di sektor pelayaran, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan turut melakukan koordinasi. Notice to mariners diterbitkan dengan pembatasan aktivitas kapal dalam radius tiga kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau selama status gunung berada pada Level III atau Siaga.

Pemerintah menyatakan pemantauan terhadap aktivitas Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif, dengan keselamatan masyarakat serta keamanan penerbangan dan pelayaran menjadi prioritas.

Reporter : Bayu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru