Desa Terkini, Makassar – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong Optimalisasi Lahan alias oplah untuk meningkatkan pemanfaatan lahan pertanian sekaligus mendongkrak produksi pangan nasional.
Program ini diarahkan terutama untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP), yakni frekuensi lahan ditanami dalam satu tahun. Semakin tinggi indeks pertanaman pada lahan yang memiliki dukungan air dan sarana produksi memadai, semakin besar pula potensi peningkatan produksi dari lahan tersebut.
Oplah menjadi salah satu strategi pemerintah dalam memperluas produksi pangan tanpa semata-mata mengandalkan pembukaan lahan pertanian baru.
Melalui program tersebut, lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal didorong agar kembali produktif. Pemerintah memberikan dukungan melalui sejumlah intervensi, termasuk pengelolaan lahan, sarana produksi, pompanisasi, benih, serta pendampingan kepada petani.
Kementan juga menargetkan peningkatan indeks pertanaman pada lahan yang telah mendapatkan intervensi pemerintah hingga IP 250 bahkan IP 300, dengan menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah.
Gerakan Tanam Serempak yang digelar Kementan pada 3 Juli 2026 menjadi salah satu upaya mempercepat pemanfaatan lahan hasil program Oplah dan Cetak Sawah Rakyat (CSR). Kegiatan tersebut dilaksanakan di 25 provinsi dengan target tanam sekitar 50.000 hektare.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan peningkatan indeks pertanaman menjadi salah satu fokus dalam percepatan produksi pangan.
“Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat. Penyuluh pertanian bersama petani menjadi ujung tombak untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan menghasilkan produksi yang optimal,” ujarnya.
Untuk mendukung peningkatan IP, pemerintah mendorong penggunaan varietas unggul berumur genjah, benih yang lebih tahan terhadap kekeringan dan hama, teknologi budidaya adaptif terhadap iklim, pemupukan berimbang, serta pompanisasi untuk memastikan ketersediaan air.
Berdasarkan data realisasi tanam periode Oktober 2025 hingga 1 Juli 2026, luas tanam pada lokasi Oplah 2024 mencapai 501.368 hektare dengan indeks pertanaman 1,44. Sementara Oplah 2025 telah mencapai 634.039 hektare dengan indeks pertanaman 1,44.
Untuk Cetak Sawah Rakyat, luas lahan yang telah tertanami mencapai 62.279 hektare atau 100,87 persen dari target.
Contoh Pelaksanaan Oplah di Luwu
Pelaksanaan Oplah di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu contoh penerapan program tersebut di tingkat daerah.
Kabupaten Luwu memperoleh program Oplah dari Kementan pada 2025 yang mencakup optimalisasi lahan rawa seluas 1.708 hektare dan lahan nonrawa seluas 861 hektare.
Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemanfaatan lahan, produktivitas pertanian, serta indeks pertanaman.
Salah satu hasilnya terlihat di Kecamatan Walenrang Timur. Pada lahan yang dikelola Kelompok Tani Taman Harapan di Desa Rante Damai, panen padi varietas Ciherang dilakukan pada Kamis 17 September 2026.
Berdasarkan laporan teknis Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, produktivitas riil pertanaman mencapai 8,9 ton per hektare, sementara hasil ubinan mencapai 11,2 ton per hektare.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, Moch. Arsal Arsyad, mengatakan program Oplah di wilayah tersebut telah meningkatkan indeks pertanaman dari IP 180 menjadi IP 200.
“Tujuan utama kegiatan Oplah ini adalah meningkatkan indeks pertanaman dari IP 180 menjadi IP 200, dengan target akhir mencapai IP 300,” ujar Moch. Arsal Arsyad.
Capaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan indeks pertanaman tidak hanya bergantung pada luas lahan. Faktor seperti ketersediaan air, kondisi lahan, varietas yang digunakan, sarana produksi, dan pendampingan petani turut menentukan apakah lahan dapat ditanami lebih sering.
Persoalan Air Jadi Tantangan
Di Luwu, ketersediaan air menjadi salah satu persoalan yang perlu diatasi untuk mengejar target IP yang lebih tinggi.
Bupati Luwu, H. Patahuddin, meminta penyuluh pertanian dan kepala desa mengidentifikasi wilayah yang mengalami kekeringan. Menurutnya, persoalan air menjadi faktor utama dalam upaya meningkatkan indeks pertanaman hingga IP 300.
“Untuk mencapai target IP 300, persoalan utama adalah air. Karena itu, saya meminta agar daerah-daerah yang mengalami kekeringan segera diidentifikasi,” kata Bupati Luwu.
Pemerintah Kabupaten Luwu juga menyebut adanya program Modern Advanced Agricultural System (PMAS) di Padang Sappa, Kecamatan Ponrang, dengan luasan sekitar 500 hektare. Program tersebut diarahkan untuk mendukung peningkatan indeks pertanaman.
Bupati menargetkan penanaman padi kembali dimulai pada November mendatang dengan sasaran IP 250.
Dari contoh Luwu tersebut, Oplah menunjukkan bahwa optimalisasi lahan bukan sekadar meningkatkan luas area yang ditanami. Tantangan berikutnya adalah memastikan lahan dapat ditanami secara berkelanjutan dengan dukungan air, teknologi, sarana pertanian, dan pendampingan yang memadai.
Karena itu, keberhasilan Oplah pada akhirnya tidak hanya diukur dari berapa luas lahan yang mendapat intervensi, tetapi juga dari seberapa jauh lahan tersebut benar-benar produktif dan mampu meningkatkan produksi pangan.


